Malam sebelum puncak acara, di lorong kampung yang redup diterangi obor, tradisi ngadamar dimulai. Lampu-lampu kecil itu bergeming di tangan-tangan yang hangat, menari perlahan di udara dan menyusuri kampung, memberitahukan pada setiap rumah bahwa esok adalah hari transformasi.
Api-api kecil itu menjadi simbol bahwa dalam kegelapan pun bisa ada cahaya, dalam diri yang lelah pun masih ada harapan.
Berikutnya saya mendengar suara canda anak-anak yang mengantri untuk kuramasan: ritual keramas yang membuat kulit kepala basah oleh air tujuh mata air dari sungai Citanduy, dibimbing oleh sesepuh Abah Latif. Air itu bukan sekadar pelepas kotoran; ia menitis sebagai simbol harapan, membasuh segala kekhawatiran yang tersisa.
Baca Juga: Menjemput Ramadhan dari Tanah Wali: Wisata Religi Ciamis Kian Dilirik
Di mata anak-anak itu, terpantul sesuatu yang lebih dari sekadar kebersihan, ada rasa suci yang perlahan meresap ke dalam diri mereka.
Ketika matahari menyapa siang, masyarakat berkumpul mengitari makam untuk tawasul dan doa bersama. Kata-kata doa mengalun, seolah akar-akar pohon di sekeliling ikut berdendang, dan angin membawa setiap harap ke langit.
Selesai tawasul, yang lain berdiri bergandengan tangan, saling bersalaman, saling bermaafan. Di antara mereka, terdengar suara tawa yang kadang haru, kadang lega, seolah setiap pelukan menghapus dosa-dosa kecil yang pernah terpatri.
Setelah doa, musik tradisional mengalun, dan pagelaran seni meneguhkan bahwa Misalin bukan sekadar pembersihan diri saja tetapi juga perayaan hidup.
Baca Juga: Hanjuang Bodas: Pohon Sakral Kerajaan Pajajaran Moksa Bersama Prabu Siliwangi
Kemudian berlanjut ke makan bersama di lapang dan berbagi cerita di bawah langit luas. Seolah ada pesan langit, kebersamaan itu sendiri adalah doa tanpa kata.
Misalin dapat dimaknai sebagai cermin di mana jiwa-jiwa memandang diri mereka sendiri: kelembutan dituntun untuk lahir, sikap saling memaafkan diajarkan, dan keberanian untuk berubah dibangkitkan.
Ritual ini mengajak setiap insan untuk tidak hanya bersiap menghadapi ibadah puasa secara lahiriah, tetapi juga menghubungkan masa kini dengan sejarah panjang leluhur di situs yang tak lekang oleh waktu.
Misalin akhirnya, adalah bisikan budaya yang merasuk jauh sampai ke relung batin: pergantian tidak hanya tentang hari yang baru, tetapi tentang jiwa yang diremajakan, disucikan, dan disiapkan untuk menyongsong bulan yang penuh berkah.
Baca Juga: Nadran di Situs Ki Buyut Manguntapa: Jejak Budaya dan Syiar Islam di Baregbeg
Usai pentas seni budaya, saya pun pulang. Di rerimbunan pohon bambu yang lebat, saya menyaksikan harimau Lodaya berkelebat lalu hilang dalam kesunyian. Konon khodam gaib berbentuk harimau lodaya ini sesekali muncul dihadapan mereka yang terpilih.***