lokacarita

Serial Kanjeng Sunan: Bayang-bayang di Kampung Cimaung (Part 1)

Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:31 WIB
Ilustrasi - Kisah Kanjeng Sunan, sosok penyebar Islam di Kampung Cimaung (Portaloka.id - ChatGPT)

Di bawah beranda, seorang pemuda kurus dengan sarung dilipat setengah betis berdiri canggung. Dialah Dodo Murtado. Wajahnya jujur, sorot matanya bersih.

“Paman Arya,” katanya pelan, “orang-orang hanya ingin belajar agama. Tidak ada yang berniat melawan.”

Baca Juga: Didukung BRI dan LinkUMKM, Kenes Lalita Berhasil Kembangkan Bisnis Busana Anak Wastra Khas Jepara

Arya Damar menoleh tajam.

“Kau juga sering ke surau itu, Dodo?”

Dodo menunduk.

“Saya hanya ingin tahu cara hidup yang lebih baik.”

“Hidup lebih baik?” Arya mendengus. “Kau kira ajaran baru itu akan mengenyangkan perutmu?”

Dodo terdiam. Ia tahu, di mata Arya Damar, kekuasaan adalah kebenaran. Tapi di hatinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda setiap duduk di depan Kanjeng Sunan—ada ketenangan yang tak pernah ia temukan di ladang, apalagi di perdebatan.

Menjelang magrib, angin turun dari bukit membawa hawa dingin. Warga mulai berkumpul di surau. Lampu cempor dinyalakan. Kanjeng Sunan duduk di tengah, wajahnya bercahaya lembut oleh nyala api kecil.

Baca Juga: Menjemput Ramadhan dari Tanah Wali: Wisata Religi Ciamis Kian Dilirik

Arya Damar datang. Langkahnya berat, diiringi dua orang suruhan.

“Wahai orang tua,” katanya lantang, “kau mengajarkan apa pada rakyatku?”

Surau mendadak sunyi. Dodo yang duduk di barisan belakang menahan napas.

Kanjeng Sunan mengangkat wajahnya perlahan.
“Tidak ada rakyatmu atau rakyatku, Arya. Mereka hanya hamba Allah.”

Halaman:

Tags

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB