Pembaca yang budiman, di rubrik Lokacarita akan kami tampilkan serial cerpen Kanjeng Sunan yang berlatar belakang Kerajaan masa lalu. Kanjeng Sunan adalah sosok Waliyullah sosok yang mewakili ajaran langit dan bersentuhan dengan budaya Nusantara. Yuks kita ikuti kisahnya.
PORTALOKA.ID - Kampung Cimaung adalah kampung tertua. Awalnya masuk dalam administrasi Kerajaan Pajajaran. Namun pada tahun 1529 M, saat Pajajaran runtuh, Kampung Cimaung berada di Kesultanan Cirebon di bawah pimpinan Kuwu Ardaen. Hari ini Kampung Cimaung berada di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Pagi itu diselimuti kabut tipis yang turun pelan dari punggung bukit. Embun masih menggantung di pucuk daun singkong, dan suara kokok ayam bersahut-sahutan dengan gemericik air irigasi sawah.
Kampung kecil itu tampak damai, tapi sesungguhnya sedang menyimpan gelombang yang tak terlihat. Di sini ada penguasa yang kejam dan gaib yang bisa memangsa manusia.
Itulah sebabnya Kanjeng Sunan menjadikan kampung ini sebagai sasaran dakwah penyebaran Islam. Di surau kecil berusia ratusan tahun, beratap rumbia di pinggir kampung, seorang lelaki sepuh duduk bersila. Jubahnya sederhana, sorot matanya teduh seperti telaga tak beriak.
Baca Juga: Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas
Dialah yang orang-orang panggil Kanjeng Sunan. Tak ada yang tahu pasti dari mana beliau datang. Tiba-tiba saja sudah ada, seolah ia turun dari langit. Dia mengajarkan wudhu pada anak-anak, mengobati orang sakit dengan doa, dan lebih sering diam daripada bicara.
“Ilmu itu bukan untuk meninggikan diri,” ucapnya pelan pada beberapa santri kecil pagi itu, “tapi untuk merundukkan hati.”
Di seberang jalan kampung, di rumah panggung paling besar, Arya Damar berdiri memandangi ladang-ladang warga dari berandanya. Tubuhnya tegap, sorot matanya tajam, kumisnya tebal melintang seperti garis keras nasibnya.
“Sejak orang tua berjubah itu datang, orang-orang lebih mendengar dia daripada aku,” geramnya.
Baca Juga: Dari Gunung Galuh ke Keraton Cirebon: Sejarah yang Kembali Bicara akan Sosok Pangeran Arya Natareja
Ia dulu tokoh paling disegani di Cimaung. Setiap hajatan, setiap sengketa tanah, setiap keputusan kampung—semua lewat dirinya. Tapi kini warga lebih sering berkumpul di surau kecil, mendengar petuah Kanjeng Sunan.
“Ilmu tak terlihat lebih ditakuti dari golok,” gumamnya sinis.