lokacarita

Menjemput Ramadhan dari Tanah Wali: Wisata Religi Ciamis Kian Dilirik

Senin, 26 Januari 2026 | 13:51 WIB
Ngikis, tradisi jelang Ramadhan masyarakat Ciamis (Visit Ciamis)

CIAMIS, PORTALOKA.ID - Entah sejak kapan ada tradisi Munggahan setiap menjelang Ramadhan tiba. Pun di negeri seribu situs Galuh, di setiap lokasi situs budaya, ada upacara adat Munggahan dengan nama lokal yang unik.

Di Situs Manguntapa Baregbeg ada tradisi Nadran. Di situs Ciungwanara ada Ngikis, di situs Kertabumi ada Merlawu dan di situs Penghulu Gusti Ciomas Panjalu ada tradisi Nyepuh.

Setiap tradisi ini digelar, perasaan semua orang sangat bahagia menyambut Ramadhan. Alam Galuh mulai terasa, udara Ciamis sejuk.

Pagi-pagi buta, kabut tipis masih menggantung di perbukitan, sementara suara azan Subuh bersahutan dari masjid-masjid kampung.

Baca Juga: Di World Economic Forum Davos 2026, Dirut BRI Tegaskan Peran Penting UMKM dalam Keuangan Global

Di saat seperti inilah, Kabupaten Ciamis pelan-pelan berubah wajah, bukan hanya menjadi daerah yang religius, tapi juga tujuan wisata religi yang makin dicari menjelang bulan suci.

Tradisi ziarah, tirakat, dan “nyiar berkah” bukan sekadar ritual turun-temurun bagi masyarakat Tatar Galuh. Ia tumbuh menjadi denyut spiritual yang menggerakkan langkah banyak orang, dari warga lokal hingga peziarah luar daerah.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Heryan Rusyandi, melihat fenomena ini sebagai kekuatan khas Ciamis yang tidak dimiliki semua daerah.

“Menjelang Ramadhan, kunjungan ke situs-situs religi di Ciamis selalu meningkat. Masyarakat ingin menyambut bulan suci dengan membersihkan hati, salah satunya melalui ziarah ke makam para tokoh penyebar Islam dan ulama besar di Ciamis,” ujar Heryan.

Baca Juga: Ibukota Galuh Ternyata di Baregbeg, Bukan di Astana Gede Kawali

Jejak spiritualitas di bumi Galuh

Ciamis dikenal sebagai wilayah yang kaya sejarah Islam. Makam para ulama, ajengan, dan tokoh penyebar dakwah tersebar di berbagai penjuru, menyatu dengan lanskap alam yang tenang perbukitan, sungai, dan pedesaan yang masih asri.
Bagi para peziarah, perjalanan ke tempat-tempat ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin.

“Wisata religi itu bukan hanya soal datang, berfoto, lalu pulang. Ada nilai sejarah, nilai dakwah, dan nilai spiritual yang dirasakan langsung oleh pengunjung. Itu yang membuat orang selalu ingin kembali,” jelas Heryan.

Beberapa lokasi ziarah di Ciamis bahkan mulai dikenal lebih luas karena cerita-cerita keteladanan tokoh yang dimakamkan di sana. Dari sosok ulama penyebar Islam di pedalaman, hingga ajengan yang dikenal istiqamah mengajar santri tanpa pamrih, kisah mereka hidup kembali lewat para peziarah.

Halaman:

Tags

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB