Baca Juga: Petani NTT Bersyukur, 3.000 Pohon Buncis Terserap Semua Berkat MBG
Pada periode budidaya cabai 2024–2025, kegiatan usaha mencatatkan keuntungan sebesar Rp246.258.000. Evaluasi berbasis Social Return on Investment (SROI) menunjukkan nilai 4,34, yang berarti setiap satu rupiah investasi menghasilkan manfaat sosial lebih dari empat rupiah.
Transformasi di Kalongliud tidak hanya terjadi pada aspek produksi, tetapi juga pada struktur sosial ekonomi desa.
Sebelum program berjalan, petani cenderung bekerja secara individual dan bergantung pada tengkulak. Biaya produksi relatif tinggi, sementara serangan hama keong kerap merusak lahan budidaya.
Kini, petani terorganisir dalam empat kelompok tani resmi yang dibentuk melalui Surat Keputusan Desa.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berperan sebagai simpul pasar, memperkuat akses distribusi dan posisi tawar petani.
Inovasi lokal pun berkembang, termasuk pemanfaatan keong yang sebelumnya menjadi hama sebagai bahan baku pupuk organik cair.
Program Garitan Kalongliud juga menjangkau kelompok masyarakat rentan. Tercatat 869 penerima manfaat langsung dan 9.874 penerima manfaat tidak langsung.
Sebanyak 68 individu dari kelompok rentan termasuk buruh tani, lansia, anak-anak, keluarga pra-sejahtera, hingga mantan pelaku pertambangan tanpa izin dilibatkan secara aktif dalam sistem ekonomi desa. Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap program ini mencapai 90,82 persen.
Keberhasilan program tidak terlepas dari peran local hero. Sosok Kang Wahyu dikenal sebagai penggerak utama di tingkat desa, yang bersama masyarakat mendorong adopsi inovasi pertanian dan penguatan kolaborasi komunitas.
Rumah Belajar Garitan yang dibangun di desa tersebut kini berkembang sebagai pusat pembelajaran, telah dikunjungi lebih dari 696 pengunjung lokal dan nasional, serta menjadi model yang mulai direplikasi di desa lain.
Sekretaris Perusahaan PT ANTAM Tbk, Wisnu Danandi Haryanto, menyampaikan bahwa Garitan Kalongliud mencerminkan pendekatan keberlanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial secara utuh.
“Program Garitan Kalongliud menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga mencakup penguatan ekonomi dan ketahanan sosial. ANTAM meyakini bahwa pendekatan berbasis ekosistem mampu menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Wisnu.
Artikel Terkait
Dari Kecerdasan Budaya Hingga Tantangan AI: Seminar Internasional FIPP Bedah Masa Depan Pendidikan dan Psikologi
Trump Puji Ketegasan Prabowo di Forum Board of Peace: Saya Tak Ingin Melawannya!
FIPP UNNES Gandeng Pakar Universiti Malaya, Jajaki Kolaborasi Riset hingga Joint Supervision
Rincian Gaji Guru Honorer Madrasah dari MI hingga MA, Paling Tinggi pun Masih di Bawah UMR
Cerita di Balik Lukisan 'Kuda Api' Karya SBY yang Laku Rp6,5 Miliar
Mahasiswa Universiti Malaya Ikut Student Exchange, Dalami Paradigma Baru Manajemen SDM di FIPP UNNES
TEGAS! DPR Minta Gaji Guru Harus Naik Tanpa Terhambat Administrasi dan Birokrasi
Indonesia Sukses Amankan Tarif 0 Persen bagi Ekspor Tekstil ke AS, 4 Juta Lapangan Kerja Terima Manfaat
PPPK Paruh Waktu Guru dan Tenaga Kependidikan Dipastikan Dapat Gaji ke-13 dan 14 di Tengah Keterbatasan Anggaran
Ciamis Siap Jadi Sentra Kacang Tanah Nasional, Program Terintegrasi Libatkan Petani dan Kementerian Pertanian