SEMARANG, PORTALOKA.ID – Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES) menerima belasan mahasiswa dari Universiti Malaya dalam program pertukaran mahasiswa (student exchange), Kamis 19 Februari 2026.
Kelas perdana ini menjadi ajang bagi para mahasiswa Malaysia untuk mendalami urgensi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) dan supervisi dalam konteks bimbingan dan konseling.
Program student exchange merupakan serangkaian kegiatan FIPP International Forum 2026 hasil kolaborasi antara FIPP UNNES, Universiti Malaysia dan UIN Salatiga.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FIPP UNNES, Farid Ahmadi, S.Kom., M.Kom., Ph.D., menjelaskan bahwa program ini merupakan langkah strategis untuk memperluas eksposur FIPP UNNES di kancah global. Selain pengalaman akademik, mahasiswa peserta program juga mendapatkan kepastian rekognisi nilai.
Baca Juga: Sayonara STIKes Muhammadiyah Ciamis, Ahlan Wasahlan Universitas Muhammadiyah Ciamis
"Hari ini mahasiswa Universiti Malaya mengikuti kuliah offline, yang nantinya akan dilanjutkan dengan pertemuan online. Mata kuliah yang mereka ambil di sini akan diakui oleh kampus asal melalui skema transfer kredit. Kita sudah bisa langsung memberikan penilaian," ujar Farid.
Selain mahasiswa dari Universiti Malaya, sejumlah mahasiswa pascasarjana di lingkungan FIPP juga ikut serta.
Perkuliahan tatap muka tersebut berlangsung di smart classroom Gedung A3 FIPP UNNES. Sesi ini dipandu oleh tim pakar yang terdiri dari Prof. Dr. Awalya, M.Pd., Kons., Dr. Ernest Ceti Septyanti, M.Si., Dr. Binti Isrofin, M.Pd., dan Dr. Ipah Saripah, M.Pd.
Dalam paparannya, tim dosen menekankan pergeseran paradigma dalam dunia manajemen. Mahasiswa diajak meninggalkan pola lama yang memandang manusia hanya sebagai alat produksi. Sebaliknya, evolusi konsep SDM saat ini telah menempatkan martabat manusia dan prinsip keberlanjutan sebagai pusat kebijakan organisasi.
Baca Juga: FIPP UNNES Gandeng Pakar Universiti Malaya, Jajaki Kolaborasi Riset hingga Joint Supervision
Diskusi menjadi semakin dinamis saat membahas pendekatan berbasis kekuatan (strength-based).
Para mahasiswa Universiti Malaya mendalami bagaimana identifikasi potensi individu menjadi kunci utama membangun organisasi yang sehat, alih-alih hanya berfokus pada perbaikan kekurangan.
Pendekatan ini dinilai sangat relevan bagi calon doktor bimbingan dan konseling dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif.
Lebih jauh, materi tersebut menggarisbawahi bahwa investasi pada manusia bukan sekadar urusan administratif, melainkan seni menyelaraskan tujuan organisasi dengan kesejahteraan mental.
Artikel Terkait
Promedia Group dan Alduro Ganti Atap Rumah Wartawan Gratis, Perangi Sampah Sambil Tingkatan Kenyamanan Hunian Jurnalis
Perkuat Kerja Sama dengan AS, Prabowo: Kami Butuh Mitra untuk Industrialisasi
Momen Menlu Sugiono Lantang Suarakan Perdamaian Palestina: Board of Peace Harus Sejalan dengan Prinsip PBB!
Pilu Bocah di Aceh Tengah yang Ingin Kembali Sekolah, Pasrah Bangunan Tertimbun Tanah Bekas Banjir: Kelasnya Dulu di Sini
Dari Kecerdasan Budaya Hingga Tantangan AI: Seminar Internasional FIPP Bedah Masa Depan Pendidikan dan Psikologi
Cerita di Balik Lukisan 'Kuda Api' Karya SBY yang Laku Rp6,5 Miliar