Dalam ekonomi konvensional, logika keuntungan bergerak cepat. Modal ditanam, produksi berjalan, pasar merespons, laba datang. Tetapi dalam ekonomi hijau, waktu berjalan lambat, seolah-olah uang harus belajar menjadi pohon terlebih dahulu sebelum bisa dipanen.
Petani organik, misalnya, harus menunggu bertahun-tahun untuk memulihkan kesuburan tanah tanpa pupuk kimia.
Baca Juga: Sambut Bulan Suci, LPYP Maleber Ciamis Gelar Tahniah Ramadhan Bersama Puluhan Anak Yatim
Pengusaha energi terbarukan harus menanggung biaya investasi awal yang sangat besar sebelum merasakan keuntungan.
Produsen barang ramah lingkungan harus menghadapi biaya produksi yang lebih mahal, sementara konsumen masih membandingkan harga, bukan nilai moral.
Balik modal bukan soal bulan. Kadang soal tahun. Kadang soal generasi. Dan di sinilah paradoks itu lahir: ekonomi hijau menyelamatkan masa depan, tetapi sering mengorbankan masa kini pelakunya.
Masalah kedua adalah pasar.
Pasar tidak digerakkan oleh kesadaran. Pasar digerakkan oleh harga. Banyak orang memuji produk ramah lingkungan, tetapi sedikit yang benar-benar membelinya, terutama jika harganya lebih mahal.
Baca Juga: Tanggul Sungai Citalahab Jebol, Ratusan Rumah dan Ratusan Hektare Sawah di Pamarican Ciamis Terendam
Kesadaran ekologis sering berhenti di kata-kata, tidak sampai ke dompet. Ini realita yang dialami para penggerak ekonomi hijau di Jawa Barat.
Akibatnya, para pelaku ekonomi hijau hidup dalam kontradiksi: mereka menghasilkan produk yang secara moral lebih tinggi, tetapi secara ekonomi kurang diminati.
Mereka benar secara etika, tetapi kalah secara finansial. Ini adalah ironi yang jarang dibicarakan dalam seminar-seminar keberlanjutan. Para pelaku ekonomi hijau diberikan dongeng tanpa kabar bahagia.
Masalah ketiga adalah struktur ekonomi itu sendiri.
Ekonomi modern dibangun di atas efisiensi, kecepatan, dan skala. Ekonomi hijau sering bertentangan dengan ketiganya. Ia lebih lambat, lebih mahal, dan lebih kecil skalanya.
Baca Juga: Prabowo Tiba di Washington DC, Siap Memulai Misi Ekonomi dan Perdagangan
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Skrema Kredit Ringan untuk Nelayan Melalui Koperasi Merah Putih
Content Creator Jerhemy Owen Spill Papan untuk Tembok dan Atap Bangunannya yang Terbuat dari Daur Ulang Plastik
Kemenag Ungkap Persoalan Teknis Pengangkatan PPPK Guru Madrasah, di Antaranya Pernah Ikut CPNS
Masjid Rahmatullah BRP Panglayungan Tasikmalaya Tebar Berkah, Ribuan Anak Yatim dan Dhuafa Terima Santunan
Nadran di Situs Manguntapa, Jejak Syukur yang Tak Pernah Usang
Gaspool Ciamis Juara 1 Kejurda Voli U-14 Jabar 2026, PBVSI: Bukti Pembinaan Berjalan Baik
Siswa SD Asal Bandung yang Diundang NASA usai Raih Juara Olimpiade Sains Internasional, Koleksi 18 Medali
Siap-Siap jadi ASN! Kemenag Beri Bocoran Proses Pengangkatan PPPK Guru Madrasah Swasta yang Sedang Berjalan
Diduga Terlambat Datang ke Sekolah, Mobil MBG Disoraki Siswa
Menkeu Purbaya Spill Jadwal Pencairan THR PNS dan PPPK 2026, Anggaran Capai Rp55 Triliun