Dengan kata lain, ekonomi hijau tidak kompatibel dengan naluri dasar kapitalisme: akumulasi cepat. Nah mampukah para pelaku ekonomi hijau bersaing?
Ia bukan mesin untuk mempercepat kekayaan. Ia adalah rem. Bisnis tanpa merusak lingkungan? Seperti melawan hukum dagang itu sendiri. Dan dalam dunia yang memuja akselerasi, rem tidak pernah populer.
Akhirnya, banyak penggiat ekonomi hijau hidup dalam posisi yang nyaris tragis, miskin dan tak berdaya untuk diri dan keluarganya.
Mereka berada di antara dua dunia: dunia ideal dan dunia nyata. Dunia ideal memuji mereka sebagai penyelamat bumi. Tapi miris, dunia nyata tidak selalu membeli produk mereka. Ini ironis sekali.
Baca Juga: Unik! Bukan Pakai Ompreng, MBG di Sekolah Ini Disajikan Prasmanan, Siswa Bisa Pilih Menu Sendiri
Mereka dihormati secara simbolik, tetapi tidak selalu didukung secara ekonomi. Mereka kaya secara moral, tetapi sering miskin secara finansial.
Namun, mungkin di sinilah inti pertanyaan yang lebih dalam: Apakah ekonomi hijau memang diciptakan untuk membuat orang kaya?. Atau justru untuk mengajarkan bahwa tidak semua nilai harus diukur dengan kekayaan?
Mungkin ekonomi hijau bukan jalan menuju kekayaan, tetapi jalan menuju makna. Tetapi masalahnya sederhana, makna tidak bisa selalu membayar tagihan.
Dan selama dunia masih digerakkan oleh keuntungan, ekonomi hijau akan tetap menjadi pilihan yang mulia, tetapi mahal.
Ia bukan jalan yang salah. Ia hanya bukan jalan pintas untuk sejahtera. Dan dalam zaman yang terobsesi pada kecepatan, jalan yang lambat sering terasa seperti kekalahan, meskipun sebenarnya ia adalah satu-satunya jalan yang tidak menghancurkan masa depan.
Sementara disisi lain, para konglomerat yang bisnis di ranah abiotik dan biotik membabat dan merusak sumber daya alam hidup berlimpah kekayaan.
Mereka tidak pernah berinvestasi dalam ekosistem ekonomi hijau, bahkan mereka anti bisnis ramah lingkungan. Tapi mereka yang menjadi anak emas kebijakan.***
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Skrema Kredit Ringan untuk Nelayan Melalui Koperasi Merah Putih
Content Creator Jerhemy Owen Spill Papan untuk Tembok dan Atap Bangunannya yang Terbuat dari Daur Ulang Plastik
Kemenag Ungkap Persoalan Teknis Pengangkatan PPPK Guru Madrasah, di Antaranya Pernah Ikut CPNS
Masjid Rahmatullah BRP Panglayungan Tasikmalaya Tebar Berkah, Ribuan Anak Yatim dan Dhuafa Terima Santunan
Nadran di Situs Manguntapa, Jejak Syukur yang Tak Pernah Usang
Gaspool Ciamis Juara 1 Kejurda Voli U-14 Jabar 2026, PBVSI: Bukti Pembinaan Berjalan Baik
Siswa SD Asal Bandung yang Diundang NASA usai Raih Juara Olimpiade Sains Internasional, Koleksi 18 Medali
Siap-Siap jadi ASN! Kemenag Beri Bocoran Proses Pengangkatan PPPK Guru Madrasah Swasta yang Sedang Berjalan
Diduga Terlambat Datang ke Sekolah, Mobil MBG Disoraki Siswa
Menkeu Purbaya Spill Jadwal Pencairan THR PNS dan PPPK 2026, Anggaran Capai Rp55 Triliun