Sabtu, 18 Juli 2026

Ekonomi Hijau dan Ilusi Kebajikan: Ketika Menyelamatkan Bumi Berarti Mengorbankan Kesejahteraan

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Rabu, 18 Februari 2026 | 12:27 WIB
Forum Diskusi Group mendiskusikan Roapmap Ekonomi Hijau di Kabupaten Ciamis, Selasa, 17 Februari 2026 di Saung Ruang Riung Leuwi Keris (Portaloka.id/Bang Sufi)
Forum Diskusi Group mendiskusikan Roapmap Ekonomi Hijau di Kabupaten Ciamis, Selasa, 17 Februari 2026 di Saung Ruang Riung Leuwi Keris (Portaloka.id/Bang Sufi)

Oleh Bang Sufi

PORTALOKA.ID - Narasi ekonomi hijau mencuat ke publik karena sudah menjadi regulasi negara. Tapi diskursus ekonomi hijau ditujukan kepada kaum miskin yang tak paham dengan konsepsi ekonomi hijau.

Setiap pidato para pejabat menggaungkan ekonomi ramah lingkungan tanpa memberikan advokasi kebijakan.

Ada sebuah janji yang terdengar suci dan sakral dalam zaman modern: selamatkan bumi, maka bumi akan menyelamatkanmu.

Janji itu dikemas dalam istilah yang indah, kadang dengan dalil agama, bahkan dibumbui seolah ekonomi hijau itu sesuai ajaran agama. Ia dielu-elukan oleh lembaga global seperti Perserikatan Bangsa‑Bangsa, dipertegas dalam Perjanjian Paris, dan dipromosikan oleh lembaga keuangan seperti Bank Dunia.

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 Hijriah Kabupaten Ciamis, Cek Link Downloadnya DI SINI!

Ekonomi hijau digambarkan sebagai masa depan: bersih, adil, dan berkelanjutan.

Namun, di balik retorika yang penuh cahaya itu, ada kenyataan yang lebih sunyi, dan seringkali lebih pahit.

Ekonomi hijau tidak diciptakan untuk membuat orang cepat kaya.

Ia justru sering menjadi jalan panjang yang menguji kesabaran, bahkan menguras ketahanan ekonomi pelakunya.

Baca Juga: Warga Perum Bumi Kersanagara Tasikmalaya Heboh, Pria 56 Tahun Ditemukan Meninggal Sendirian di Rumah

Salah satu penggerak daur ulang sampah di Kota Banjar Yadi, butuh waktu 10 tahun untuk bisa menikmati kue ekonomi daur ulang sampah.

Masalah pertama adalah waktu.

Para stakeholder ekonomi hijau adalah aktifis yang susah secara ekonomi lalu berinvestasi kesabaran dan kesadaran begitu lama hingga terbentuk ekosistem pasar.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X