Kendati dalam perjalanannya kedua teman Wildan tidak lolos, dia tak patah semangat. Hingga akhirnya, perjuangan yang dilakukannya dari awal tidak sia-sia ketika kesempatan untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih itu datang.
"Saya sangat bahagia ketika ditetapkan sebagai pengibar pagi. Saya juga sangat bahagia ketika membentangkan Sang Saka Merah Putih dikarenakan itu adalah kebahagiaan saya ketika latihan, jadi semua terbayarkan dari awal latihan sampai penugasan," ucapnya dengan bangga.
Menjadi petugas pengibar bendera memang bukan pengalaman pertamanya. Anak kedua dari tiga bersaudara itu pernah beberapa kali menjadi Paskibra di tingkat desa.
Baca Juga: 228 Warga Binaan Lapas Ciamis Terima Remisi, Empat Orang Langsung Bebas
Bermodalkan pengalaman tersebut, dengan penuh keyakinan siswa kelahiran Garut 16 tahun lalu itu pun mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi Paskibraka Kabupaten Ciamis.
"Awalnya iseng buat daftar, namun ada dua teman saya yang ngajak. Saya pikir, boleh juga nih, soalnya saya mau coba gimana fisik saya untuk bersaing dengan satu kabupaten. Alhamdulillah seleksi administrasi saya lolos, kemudian tahap 1 seleksi tes fisik. Di situ saya dan dua teman dari Al Barkah Alhamdulillah lolos semua. Tapi di tes PWK (Pancasila Wawasan Kebangsaan), dua teman saya gagal," kenangnya,
Meski sempat merasa sedih karena dua temannya tidak lolos, tapi dia berupaya untuk menyelesaikan semua tahapan seleksi sampai tahap akhir.
Wildan menambahkan, keberhasilan yang ia capai tidak lepas dari dukungan para guru, teman dan kedua orang tuanya.
Dia pun berpesan kepada adik kelas yang ingin mengikuti jejaknya harus terus berjuang dan menjalani semua prosesnya.
"Untuk Bapak Kepala, bapak dan ibu guru, saya ucapkan terima kasih telah mendukung saya sepenuh hati, mensupport saya dalam berbagai hal dari awal sebelum Puslat hingga akhir. Terima kasih telah mendoakan saya," pungkasnya.***