MAJALENGKA, PORTALOKA.ID – Permasalahan sampah masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak daerah, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Di wilayah desa, pengelolaan sampah sering kali masih dilakukan secara sederhana, bahkan belum tertata secara optimal.
Kondisi ini juga dirasakan oleh masyarakat RT 01 Blok Karangsari, Desa Muktisari, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Aktivitas rumah tangga sehari-hari menghasilkan berbagai jenis sampah, terutama sampah organik seperti daun kering, ranting, serta sisa hasil pertanian yang cukup melimpah.
Baca Juga: 4.500 Guru Diniyah di Sumedang Terima Insentif, Pemkab Siapkan Anggaran Rp9 Miliar
Selama ini, sebagian warga mengatasi sampah tersebut dengan cara membakarnya secara terbuka di halaman rumah. Cara ini dinilai praktis, namun sering menimbulkan asap tebal yang dapat mengganggu kenyamanan lingkungan serta tidak memanfaatkan panas yang dihasilkan secara optimal.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riyadlul Ulum tahun 2026 menghadirkan solusi sederhana melalui pembuatan mini rocket stove, sebuah alat pembakaran biomassa yang dirancang untuk skala rumah tangga.
Mini rocket stove merupakan tungku pembakaran yang dirancang agar proses pembakaran menjadi lebih efisien dibandingkan pembakaran terbuka. Alat ini dibuat dari bahan sederhana seperti bata ringan (hebel), semen, dan material pendukung lainnya.
Bentuknya menyerupai balok permanen dengan ruang bakar yang dirancang sedemikian rupa sehingga aliran udara dapat mengalir secara optimal.
Baca Juga: MTs-MA Al Barkah Ciamis Gelar Semarak Ramadhan 1447 H: Ada Perlombaan hingga Santunan
Prinsip kerjanya cukup sederhana. Sampah organik kering seperti ranting, daun kering, dan potongan kayu dimasukkan ke dalam ruang bakar.
Desain ruang bakar memungkinkan aliran udara mempercepat proses pembakaran sehingga api yang dihasilkan lebih stabil, panas lebih tinggi, dan asap yang keluar relatif lebih sedikit dibandingkan pembakaran biasa.
Program ini dilaksanakan di RT 01 Blok Karangsari sebagai lokasi percontohan. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada kondisi lingkungan yang memiliki cukup banyak limbah organik dari aktivitas rumah tangga maupun kegiatan pertanian. Selain itu, masyarakat setempat dikenal memiliki semangat gotong royong yang tinggi.