Jumat, 12 Juni 2026

Bahaya Negara Terus Menerus Menganaktirikan Kesetaraan dan Kesejahteraan Guru Madrasah Swasta

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Jumat, 12 Juni 2026 | 17:13 WIB
Dedy Misnoto, Ketua PIMDA PGMM Kabupaten Bondowoso (Ist)
Dedy Misnoto, Ketua PIMDA PGMM Kabupaten Bondowoso (Ist)

Aplikasinya: Dewey memandang guru bukan sekadar pekerja, melainkan agen perubahan sosial. Jika negara "menganaktirikan" sebagian guru, negara tersebut sedang melemahkan fondasi demokrasinya sendiri.

Bagi Dewey, negara yang mengabaikan kesejahteraan guru di lembaga non-pemerintah sama saja dengan mengabaikan hak anak-anak yang dididik di sana untuk mendapatkan kualitas pendidikan demokratis yang setara.

Baca Juga: Generasi Hebat Tidak Lahir dari Kenyamanan, Tetapi dari Perjuangan

Karl Marx & Neo-Marxisme (Eksploitasi Tenaga Kerja)

Dalam kacamata kritik sosial Barat, memperkerjakan guru dengan standar kualifikasi tinggi dan jam kerja yang sama dengan sekolah negeri, namun membayarnya jauh lebih rendah, adalah bentuk eksploitasi surplus nilai.

Negara membiarkan lembaga non-pemerintah memikul beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara (mencerdaskan bangsa),namun negara lepas tangan terhadap kesejahteraan pelaksananya.

2. Bahaya Negara yang "Menganaktirikan" Kesejahteraan Guru Madrasah Swasta

Ketika suatu negara membedakan hak-hak guru berdasarkan status sekolah (negeri vs swasta), padahal standar mutu dan kurikulumnya sama, negara tersebut sedang menanam bom waktu.

Baca Juga: Menyala PPPK! Legislator Minta Pemerintah Tak Pecat ASN Meski Belanja Pegawai Dibatasi 30 Persen

Berikut adalah bahaya sistemisnya:

Kesenjangan Mutu Pendidikan (Educational Inequity)

Guru-guru hebat di sekolah non-pemerintah yang merasa tidak dihargai secara adil lambat laun akan eksodus (pindah) ke sekolah negeri atau keluar dari profesi guru. Akibatnya, mutu sekolah non-pemerintah merosot, dan anak-anak yang bersekolah di sana menjadi korban.

Standar Ganda Moralitas Negara

Negara menuntut kepatuhan kurikulum dan standar mutu yang ketat (akreditasi) kepada lembaga swasta, namun tidak memberikan timbal balik (reciprocity) dalam hal jaminan kesejahteraan. Ini menciptakan ketidakpercayaan publik terhadap komitmen keadilan negara.

Demotivasi dan Burnout Massal

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X