PORTALOKA.ID - Pernahkah kita berpikir, mengapa generasi terdahulu mampu bertahan menghadapi berbagai kesulitan hidup?
Mereka tumbuh di tengah keterbatasan, namun memiliki ketangguhan yang luar biasa. Mereka tidak memiliki teknologi secanggih sekarang, tidak memiliki akses informasi secepat hari ini, bahkan banyak yang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan pendidikan.
Namun dari keterbatasan itulah lahir semangat juang, kesabaran, rasa syukur, dan karakter yang kuat.
Kini zaman telah berubah. Dunia bergerak semakin cepat. Informasi datang tanpa batas. Teknologi berkembang melampaui imajinasi. Banyak pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari, kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Kehidupan menjadi lebih mudah, lebih praktis, dan lebih modern.
Baca Juga: FGD Pendidikan di Bojonegoro, PGMM Soroti Kesenjangan Guru Negeri dan Swasta
Namun pertanyaannya, apakah kemudahan itu juga membuat kita menjadi lebih kuat?
Inilah tantangan terbesar generasi masa kini. Jika generasi dahulu diuji oleh keterbatasan, maka generasi sekarang diuji oleh kelimpahan. Jika dahulu orang harus berjuang mencari informasi, kini kita harus berjuang menyaring informasi. Jika dahulu sulit mendapatkan kesempatan, kini tantangannya adalah memanfaatkan kesempatan yang begitu banyak tanpa kehilangan arah.
Kita hidup di zaman ketika seseorang dapat mengetahui kabar dari seluruh dunia hanya melalui layar kecil di tangannya. Namun ironisnya, banyak yang semakin jauh dari dirinya sendiri.
Kita hidup di era yang menghubungkan jutaan manusia dalam satu jaringan, tetapi masih banyak yang merasa kesepian. Kita hidup di tengah kemajuan yang luar biasa, namun masih banyak yang kehilangan semangat untuk bermimpi dan berjuang.
Media sosial sering kali menampilkan keberhasilan tanpa memperlihatkan proses. Kita melihat pencapaian orang lain, tetapi tidak melihat air mata, kegagalan, dan perjuangan yang mereka lalui. Akibatnya, banyak orang merasa tertinggal, merasa kurang berharga, bahkan kehilangan kepercayaan diri hanya karena terlalu sering membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.
Padahal setiap manusia memiliki garis perjuangannya masing-masing. Tidak semua orang harus berlari dengan kecepatan yang sama. Tidak semua orang harus mencapai tujuan pada waktu yang sama. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa kuat kita bertahan dan terus melangkah.
Guru dan Ketidakadilan yang Masih Menjadi Pekerjaan Rumah Bangsa
Sebagai seorang guru, saya memahami bahwa pendidikan bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan pengabdian. Namun kita juga tidak dapat menutup mata bahwa hingga hari ini masih banyak guru, khususnya guru swasta dan guru madrasah swasta, yang belum memperoleh kesejahteraan yang layak.