Pada jenjang MTs, ada 18.899 dari 19.376 lembaga (97,54%) yang telah terdaftar. Total ada 1.005.408 siswa (96,71%) yang akan mengikuti TKA dari total 1.039.585 murid.
Baca Juga: Link Simulai TKA SD dan SMP untuk Persiapan Hadapi Tes Kemampuan Akademik
Sedangkan untuk pesantren, dari 2.222 lembaga, ada 1.605 lembaga (72,23%) yang mendaftar, dengan tingkat partisipasi santri mencapai 45.163 orang (84,07%) dari total 53.721 santri.
Direktur KSKK Madrasah, Nyayu Khodijah, menyebutkan bahwa pihaknya terus mendorong peningkatan partisipasi, khususnya di pesantren.
“Kami melihat tren yang positif, tetapi juga menyadari masih ada ruang peningkatan, terutama dalam kesiapan infrastruktur dan integrasi sistem di pesantren,” ujarnya.
Pelaksanaan TKA 2026 didominasi moda daring. Pada jenjang MI, 97,57% lembaga melaksanakan secara online, sementara MTs mencapai 94,13%, dan pesantren 97,13%.
Baca Juga: Tips Sukses Menghadapi TKA untuk Murid, Guru dan Orang Tua, Yuk Praktikkan!
Menurut Nyayu, pihaknya telah melakukan verifikasi kesiapan infrastruktur. Pada jenjang MI, sebanyak 73,69% lembaga terverifikasi, jenjang MTs sejumlah 67,77% lembaga terverifikasi, serta pesantren baru 40,31% lembaga terverifikasi.
“Kualitas pelaksanaan menjadi prioritas kami. Tidak hanya jumlah peserta, tetapi juga memastikan bahwa pelaksanaan berjalan kredibel, adil, dan mencerminkan kemampuan riil peserta didik,” tegas Nyayu.
AN-TKA dirancang untuk mengukur capaian akademik murid yang terstandar, menjamin pemenuhan akses pendidikan nonformal dan informal terhadap penyetaraan hasil belajar, peningkatan kapasitas pendidik dalam mengembangkan penilaian yang berkualitas, serta menjadi acuan pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan.
Dalam dua hari pelaksanaan, peserta akan mengerjakan Matematika (75 menit, 30 soal), Bahasa Indonesia (75 menit, 30 soal) dan Soal karakter (20 menit per hari).
Baca Juga: 630 Ribu Guru Madrasah Swasta Gagal jadi PPPK, DPR Usulkan Skema Ini sebagai Solusi
Ke depan, hasil AN-TKA tidak hanya akan menjadi laporan capaian murid, tetapi juga menjadi fondasi dalam merancang intervensi kebijakan, peningkatan kualitas pembelajaran, serta penguatan daya saing lulusan madrasah dan pesantren.
“Ini adalah pijakan menuju masa depan pendidikan Islam yang lebih adaptif, terukur, dan berdaya saing global,” pungkas Dirjen.***
Artikel Terkait
72 Siswa di Jakarta Timur Diduga Keracunan MBG, Alami Mual hingga Diare
Prabowo Beri Penghormatan Terakhir 3 Jenazah Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
Momen Haru Prabowo Peluk dan Cium Putra Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
Puluhan Siswa di Jaktim Diduga Keracunan MBG, BGN Minta Maaf, Janji Tanggung Biaya Pengobatan Korban
Kemenag Usul Tambah Anggaran Rp24,8 Triliun untuk Madrasah dan Sekolah Keagamaan, Salah Satunya Bantuan Buku Tulis Gratis
BGN Hentikan Insentif Rp6 Juta per Hari jika SPPG MBG Tak Lakukan Ini
PPPK Lumajang Full Senyum, Pemerintah Pastikan Taka Ada PHK di Tengah Efisiensi Anggaran
Pemerintah Jamin Tak Ada Pemberhentian PPPK dan PPPK Paruh Waktu Meski Belanja Pegawai di Atas 30 Persen
PPPK Paruh Waktu Bakal Ditempatkan di Koperasi Merah Putih, Kecuali 2 Pegawai Ini
Viral, Petugas SPPG Injak Melon MBG Berujung Klarifikasi dan Minta Maaf