Untuk mengenang jasa perjuangan Ki Buyut Manguntapa itulah, para leluhur Baregbeg menggelar upacara adat Nadran setiap menjelang Ramadhan.
Baca Juga: Didukung BRI dan LinkUMKM, Kenes Lalita Berhasil Kembangkan Bisnis Busana Anak Wastra Khas Jepara
Tradisi Nadran di Desa Baregbeg, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis merupakan sebuah ritual adat yang sarat makna, menggabungkan nilai keagamaan, penghormatan terhadap leluhur, dan kearifan lokal yang hidup harmonis dalam kehidupan masyarakat Baregbeg.
Sejarah Ki Buyut Manguntapa dan Lahirnya Nadran
Tokoh sentral dalam tradisi ini adalah Ki Buyut Manguntapa seorang pemuka masyarakat yang dianggap sebagai pendiri Desa Baregbeg pada masa Kerajaan Galuh Kawali.
Beliau bukan hanya pendiri desa, tetapi juga dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Kehadirannya menjadi simbol perpaduan antara kekuatan lokal dan nilai-nilai agama yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya melalui tradisi Nadran.
Baca Juga: Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas
Ritual Nadran di sini dimaknai sebagai tradisi mengenang kebaikan leluhur untuk menjadi suri tauladan anak cucu. Tradisi dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat saat menyambut Ramadan.
Tradisi ini merupakan akulturasi nilai Islam dengan budaya lokal yang lebih tua, termasuk praktik penghormatan terhadap leluhur dan elemen simbolik yang berasal dari kehidupan agraris dan sosial masyarakat.
Proses Ritual dan Simbolisme
Rangkaian tradisi Nadran kaya akan simbol dan nilai moral yang mendalam. Prosesi dimulai dengan kirab bersama menuju Situs Ki Buyut Manguntapa, diiringi kesenian lokal, rebana, serta marching band yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dari anak sekolah hingga tokoh budaya.
Baca Juga: Dari Gunung Galuh ke Keraton Cirebon: Sejarah yang Kembali Bicara akan Sosok Pangeran Arya Natareja
Setelah sampai di lokasi makam, peserta melakukan ziarah, tawasul, doa bersama, serta membersihkan makam dan sekitarnya sebagai simbol membersihkan diri dari dosa sebelum memasuki bulan suci.
Salah satu simbol paling khas adalah penyajian tujuh nasi liwet berwarna. Setiap warna memiliki makna tersendiri, misalnya: