Disclaimer! Tulisan ini hasil perjalanan dan menggali cerita di balik Makam Ki Buyut Manguntapa di Gunung Selamanik Baregbeg. Sang penutur carita, Abah Eli sesepuh Baregbeg dan Abah Hendra pengurus Panglawungan Galuh Kiwari. Kebenaran data faktual sebaiknya diteliti oleh para ahli.
PORTALOKA.ID - Jauh sebelum ada nama Baregbeg, ada kisah awal yang mendasari perubahan suku kata Baregbeg dan fakta alam. Pada tahun 1420 M, wilayah Baregbeg hari ini adalah hutan lebat yang susah ditembus.
Ada ribuan pohon bambu kecil tumbuh sebagai penahan erosi lereng gunung dibalik pohon-pohon besar. Bambu kecil yang rapat dan padat itu disebut Barigbig. Kemudian untuk menyebut pohon besar yang rindang, kata zaman dulu menggunakan kata Barugbug.
Setelah Ki Buyut Manguntapa berhasil membuka hutan menjadi permukiman awal, barulah dikenal nama Baregbeg karena orang-orang berduyun-duyun pindah ke perkampungan Gunung Lawung yang sekarang disebut Baregbeg Kolot.
Kisah nama dan asal muasal Desa Baregbeg ini berkembang secara lisan dan dituturkan secara turun-temurun. Untuk data tertulis atau manuskrip sebaiknya dilakukan studi dan penelitian ulang agar ada kepastian.
Baca Juga: Menjemput Ramadhan dari Tanah Wali: Wisata Religi Ciamis Kian Dilirik
Pada awal dibuka oleh Ki Buyut Manguntapa, daerah Gunung Lawung atau Selamanik dijadikan balai sawala para pembesar kerajaan.
Ki Buyut Manguntapa atau dikenal sebagai Ki Gedeng Tapa adalah anak Ki Gedeng Giri Dewata dan Ki Gedeng Giri Dewata adalah putra Prabu Bunisora.
Ki Gedeng Tapa diberikan tugas oleh Kerajaan Galuh Kawali sebagai Syahbandar Muara Jati atau juru pelabuhan pantai utara yang terletak di Talun (sekarang dikenal Cirebon Girang).
Pelabuhan ini menjadi pusat perekonomian maritim dan pelabuhan eksport import milik Kerajaan Galuh Kawali. Ia membantu ayahnya Ki Gedeng Giri Dewata.
Dalam cerita rakyat yang berkembang di Baregbeg, Ki Buyut Manguntapa adalah ahli strategi militer, ekonomi, perdagangan, pemerintahan dan penyebar Islam bersama pamannya Raden Bratalegewa.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan: Bayang-bayang di Kampung Cimaung (Part 1)
Berkat perjuangan dan tangan dingin Ki Buyut Manguntapa inilah, masyarakat Baregbeg bisa menikmati indahnya alam dan suburnya pertanian. Bahkan teknologi pembuatan senjata perang hingga kini masih bisa disaksikan di Kampung Dokdak.
Tak terasa ratusan tahun telah berlalu. Anak cucu Ki Gedeng Tapa alias Ki Buyut Manguntapa telah mewariskan nilai-nilai budaya Sunda dan Islam secara harmonis kepada generasi hari ini.
Dari pernikahannya dengan Nyi Ratna Karancang, Ki Buyut Manguntapa punya anak perempuan bernama Nyi Subang Larang, muslimah santriwati Syeikh Quro yang menjadi indung penyebar Islam di Tatar Pasundan.