"Saya sebenarnya inspirasi dari nasi goreng, dulu masa saya kecil, tiap pagi makan nasi goreng, ibu memasak telur dadarnya diberi tambahan daun so agar bisa jadi banyak."
"Nah kalau cuma mengandalkan nasi goreng, bakal menonton. Karena saya basic di hotel, di kapal pasir juga, jadi tiap breakfast yang dicari banyak tamu itu nasi goreng, dan di sini enggak ada yang jual nasi goreng pagi hari."
"Yang membedakan nasi goreng di sini dengan yang lain, nasi goreng di sini telur dadarnya pakai daun so seperti di rumah zaman dulu," ujarnya.
Harga yang ditawarkan relatif terjangkau dan tidak bikin kantong jebol.
Harga makanan paling mahal hanya Rp 18 ribu saja.
"Harga itu mulai Rp 8 ribu, yang sultan itu ada di 18 ribu sudah dapat nasi goreng dengan sate ayam, bisa milih telur ayam negeri atau omega. Kalau sop iga Rp 16 ribu," imbuhnya.
Saat harinya Warung Lokal Bersinar bisa menjual 300 hingga 500 porsi makanan.
Warung Lokal Bersinar buka dari pukul 06.00 WIB hingga 10.00 WIB dan libur setiap hari Rabu.
Para pembeli yang datang biasanya datang daeri daerah Klaten, Yogyakarta dan Soloraya.
"Kedepannya kalau saya inginnya di sini jadi breakfast center, jadi menu bisa menambah lagi, inovasi lagi."
"Saya sudah mulai gandeng UMKM di lokal desa Tlobong, kasih tempat untuk jualan di sini. Saya cuma fokusnya kesejahteraan warga setempat dulu," ujarnya. ***