Baca Juga: Siswi MTsS Janggala Raih Juara II Bulu Tangkis Putri pada PORSENI MTs Tingkat Kabupaten Ciamis 2026
Bagi Ang Icep, nilai-nilai tersebut bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan pedoman hidup yang mampu melahirkan masyarakat yang rukun dan saling menghormati.
Ia juga mengingatkan bahwa pada masa Kerajaan Galuh, seorang raja bukan hanya pemegang kekuasaan, melainkan pemersatu rakyat.
Kepemimpinan dijalankan dengan merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang, sehingga tercipta kehidupan yang harmonis.
Menurutnya, semangat itu masih relevan diterapkan pada masa kini, terutama dalam membangun generasi muda.
"Pendidikan tidak cukup hanya mencetak generasi yang cerdas. Akhlak, karakter, dan kepribadian harus menjadi fondasi agar lahir pemimpin yang berintegritas," katanya.
Di penghujung tausiyah, Ang Icep kembali menegaskan bahwa budaya Sunda dan syariat Islam bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya saling menguatkan dalam membangun peradaban yang berakhlak dan berbudaya.
"Tatar Galuh tidak boleh menjauhkan agama dari masyarakat Sunda. Budaya dan syariat Islam harus berjalan harmonis sebagai kekuatan membangun peradaban," tegasnya.
Pesan tersebut menjadi ruh dari rangkaian kegiatan menjelang pelantikan Wawakil Raja Galuh. Lebih dari sekadar seremoni adat, momentum ini diharapkan menjadi pengingat bahwa warisan Galuh tidak hanya tersimpan dalam sejarah, tetapi juga hidup dalam nilai-nilai keluhuran budi, kearifan lokal, welas asih, serta ajaran Islam yang terus diwariskan kepada generasi penerus.***