pendidikan

Guru Digugu lan Ditiru: Reaktualisasi Filosofi Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:28 WIB
Konsep Guru Digugu lan Ditiru di era Artificial Intelligence (AI) (Ist)

Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak bergantung pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi pada kualitas manusia yang menggunakannya.

Selama guru tetap menjadi pribadi yang digugu karena ilmunya dan ditiru karena akhlaknya, profesi guru akan selalu menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa.***


Penulis: Kang Galih (Galih Rimba Ariyana, S.Pd., Gr.)

- Guru MI Islamiyah Mojokampung
- Ketua PIMDA PGMM Kabupaten Bojonegoro
- Sekretaris PW PGMM Provinsi Jawa Timur
- Tim IT PP PGMM

Daftar Pustaka

  1. UNESCO. (2024). Artificial Intelligence in Education. Paris: UNESCO.
  2. UNESCO. (2024). AI Competency Framework for Teachers. Paris: UNESCO.
  3. OECD. (2019). OECD Learning Compass 2030. Paris: OECD Publishing.
  4. OECD. (2021). The Future of Education and Skills 2030. Paris: OECD Publishing.
  5. Republik Indonesia. (2005). Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. ([Database Peraturan | JDIH BPK][2])
  6. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
  7. Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.
  8. Holmes, W., Bialik, M., & Fadel, C. (2019). Artificial Intelligence in Education: Promises and Implications for Teaching and Learning. Center for Curriculum Redesign.
  9. Zawacki-Richter, O., Marín, V. I., Bond, M., & Gouverneur, F. (2019). "Systematic Review of Research on Artificial Intelligence Applications in Higher Education." International Journal of Educational Technology in Higher Education, 16(39).

Halaman:

Tags

Terkini