pendidikan

Guru Digugu lan Ditiru: Reaktualisasi Filosofi Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:28 WIB
Konsep Guru Digugu lan Ditiru di era Artificial Intelligence (AI) (Ist)

AI dapat memproses data.

Guru membentuk manusia.

Baca Juga: Harga 3 Jenis BBM Pertamina Turun per 1 Juli 2026, Ini Daftar Harga Terbaru

Tantangan Guru Indonesia

Transformasi digital menuntut guru untuk terus belajar sepanjang hayat (lifelong learning).

Guru abad ke-21 dituntut menguasai:

  • literasi digital;
  • AI literacy;
  • computational thinking;
  • etika digital;
  • pembelajaran berdiferensiasi;
  • asesmen autentik;
  • pembelajaran berbasis proyek.

Namun demikian, seluruh kompetensi tersebut harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan.

Guru yang hanya menguasai teknologi tanpa karakter akan kehilangan makna profesinya.

Sebaliknya guru yang berkarakter namun menolak perkembangan teknologi juga akan tertinggal.

Oleh karena itu keseimbangan antara kompetensi profesional dan integritas moral menjadi kebutuhan utama.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Siswa SMSR Yogyakarta yang Tembus Jalur SNBP 2026: Dari Pameran Karya Sekolah ke Kampus ITB

Penutup

Filosofi "Guru digugu lan ditiru" bukan sekadar warisan budaya Jawa, melainkan paradigma pendidikan yang relevan dalam menghadapi revolusi kecerdasan buatan.

AI memang mampu mempercepat proses pembelajaran, tetapi tidak mampu menggantikan peran guru sebagai pembimbing, teladan, dan pembentuk karakter.

Oleh karena itu, transformasi pendidikan Indonesia seharusnya tidak diarahkan pada penggantian guru oleh teknologi, melainkan pada penguatan kompetensi guru agar mampu memanfaatkan AI secara etis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Halaman:

Tags

Terkini