Kompetensi tersebut merupakan kemampuan yang hingga saat ini tetap memerlukan pendampingan manusia.
UNESCO bahkan mengembangkan AI Competency Framework for Teachers yang mendorong guru menguasai AI secara bertanggung jawab, etis, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran, bukan sekadar penggunaan teknologi.
Dalam praktiknya AI dapat membantu guru:
- menyusun modul ajar;
- membuat asesmen;
- menganalisis hasil belajar;
- menghasilkan media pembelajaran;
- mengurangi beban administrasi.
Namun AI tidak memiliki:
- empati;
- intuisi pedagogis;
- kebijaksanaan moral;
- sensitivitas budaya;
- kemampuan membangun ikatan emosional.
Karena itu AI tidak dapat menggantikan hakikat guru sebagai pendidik.
Guru sebagai Agen Pembentuk Karakter
OECD melalui kerangka Learning Compass 2030 menjelaskan bahwa tujuan pendidikan masa depan bukan sekadar menghasilkan individu yang cerdas secara akademik, tetapi manusia yang memiliki agency, tanggung jawab sosial, kesejahteraan, serta kemampuan menciptakan nilai baru bagi masyarakat.
Paradigma tersebut sangat selaras dengan filosofi "digugu lan ditiru". Guru menjadi figur sentral yang menghubungkan kecerdasan intelektual dengan kematangan karakter.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara AI dan guru.
AI mampu menghasilkan jawaban.
Guru membantu peserta didik menemukan makna.
AI mampu memberikan informasi.
Guru mengajarkan kebijaksanaan.