pendidikan

Guru Digugu lan Ditiru: Reaktualisasi Filosofi Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:28 WIB
Konsep Guru Digugu lan Ditiru di era Artificial Intelligence (AI) (Ist)

Oleh: Kang Galih (Galih Rimba Ariyana, S.Pd., Gr.)

 

PORTALOKA.ID - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan mendasar dalam ekosistem pendidikan global.

Kemampuan AI dalam menghasilkan informasi, menyusun materi pembelajaran, dan memberikan umpan balik secara cepat menimbulkan pertanyaan mengenai relevansi profesi guru pada masa depan.

Artikel ini bertujuan mereaktualisasi filosofi Jawa "Guru digugu lan ditiru" sebagai paradigma pendidikan yang tetap relevan di era digital.

Melalui pendekatan studi pustaka terhadap regulasi nasional, dokumen UNESCO, OECD, serta berbagai hasil penelitian internasional mengenai AI dalam pendidikan, artikel ini menunjukkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan fungsi guru sebagai pembentuk karakter, penanam nilai, dan teladan moral.

AI seyogianya diposisikan sebagai instrumen pendukung profesionalisme guru, bukan sebagai pengganti peran kemanusiaan dalam pendidikan.

Baca Juga: Paradoks Alokasi Anggaran: Antara Program Mercusuar dan Pemenuhan Hak Dasar Guru

Pendahuluan

Transformasi digital telah mengubah cara manusia memperoleh, mengolah, dan mendistribusikan pengetahuan. Kehadiran AI generatif memungkinkan peserta didik memperoleh jawaban atas berbagai persoalan akademik hanya dalam hitungan detik. Fenomena tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa peran guru akan semakin berkurang.

Pandangan tersebut sesungguhnya kurang tepat. Pendidikan bukan sekadar proses transfer informasi, melainkan proses membentuk manusia secara utuh.

UNESCO menegaskan bahwa penerapan AI di bidang pendidikan harus tetap berorientasi pada manusia (human-centered AI) dengan menjunjung tinggi prinsip inklusivitas, kesetaraan, etika, dan perlindungan hak peserta didik. AI dipandang sebagai alat untuk memperkuat kualitas pembelajaran, bukan menggantikan pendidik.

Dalam konteks Indonesia, filosofi Jawa "Guru digugu lan ditiru" menjadi semakin relevan. Guru dipercaya karena kompetensinya dan diteladani karena integritasnya. Nilai tersebut merupakan fondasi pendidikan karakter yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi.

Baca Juga: Artificial Intelligence Tidak Akan Menggantikan Guru: Saatnya Pendidik Berkolaborasi dengan AI untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia

Halaman:

Tags

Terkini