Dari 'Culture Shock' Hingga Labirin AI
Mahasiswa S3 UNNES asal Kirgistan, Nurtilek Kadyrov, membuka tabir pengalaman 11 tahunnya di Indonesia melalui kacamata Cultural Intelligence.
Baginya, beradaptasi di Jawa bukan sekadar fasih berbahasa, melainkan seni bernegosiasi psikologis. "Kecerdasan budaya adalah kunci yang mengubah tembok perbedaan menjadi jembatan kolaborasi," ujar pemenang Festival Handai Indonesia 2023 ini.
Di sisi lain, Shelma Rania Putri Nugroho dari prodi Psikologi menyuarakan nasib perempuan dalam status NEET (Not in Education, Employment, or Training). Ia membedah bagaimana norma gender seringkali menjadi jeruji yang memasung efikasi diri perempuan.
Sementara itu, Mafu Ceesay, mahasiswa UIN Salatiga asal Gambia, mendorong agar literasi data dan coding dijadikan "bahasa ibu" baru dalam logika pendidikan abad ke-21.
Namun, forum ini juga memberikan peringatan keras. Annisa Denti Papita, mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah, menyoroti fenomena Illusion of Understanding akibat penggunaan AI.
Ia memperingatkan bahwa kemudahan AI seringkali memberikan rasa paham palsu, yang jika tidak diantisipasi, akan mengikis kedalaman analisis kritis dan integritas intelektual mahasiswa.
Seminar internasional ini mempertegas posisi FIPP UNNES dalam mendukung SDGs, khususnya pendidikan inklusif dan kesetaraan gender, dengan memastikan diskursus akademik tetap berpijak pada realitas kemanusiaan di tengah gempuran teknologi masa depan.***