“Kami prihatin dan menyayangkan apabila benar terdapat pernyataan dari jajaran SPPG yang tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat yang diduga terdampak. Dalam kondisi seperti ini, yang harus dikedepankan adalah rasa kemanusiaan, empati, sensitivitas, dan saling menghormati,” ujarnya.
“Jangan sampai adanya kejadian yang menimpa penerima manfaat justru menjadi bahan candaan, olok-olok, atau komentar yang dapat melukai pihak yang sedang menghadapi kondisi sulit,” sambungnya.
Baca Juga: Berkat Sundulan King Eze, PSGC Ciamis Bekuk Sumsel United 2-0 di Laga Pegadaian Championship
Menurutnya, komentar yang diberikan harus hati-hati agar tidak muncul pernyataan tak sensitif.
“Kita harus bisa membedakan antara memberikan klarifikasi, memberikan pendapat dan memberikan penilaian terhadap suatu kejadian. Jangan sampai karena ingin memberikan komentar, justru muncul pernyataan yang tidak sensitif dan kemudian memperbesar persoalan,” lanjut Gagat.
“Ketika ada saudara kita, penerima manfaat, atau masyarakat yang diduga terdampak suatu kejadian, respons pertama kita seharusnya adalah empati, bukan menghakimi,” imbuhnya.
Video Viral Pegawai SPPG Bantul
Salah satunya diunggah oleh akun Instagram @reset.feeds, terlihat pegawai SPPG memamerkan menu ayam chicken katsu MBG.
Baca Juga: Fenomena 'Telur Ceplok' di Gunung Anak Krakatau Pasca Erupsi, Begini Penjelasan Kepala Pos Pantau
Ia mengatakan bahwa menu ayam tersebut adalah masakan MBG sehari sebelumnya.
“Gue makan chicken katsu masakan kemarin, apakah masih enak?” Ujarnya sambil menggigit ayam tersebut.
“Oh tidak, ingatanku hilang 70 persen,” lanjutnya sambil tertawa.
Seperti diketahui, salah satu siswi korban dugaan keracunan MBG di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara sempat dikabarkan kehilangan ingatan 70 persen saat masa pemulihan.
Korban sempat dirujuk ke RSCM Jakarta dan akan melanjutkan perawatan medis saat kembali ke Sumut.