CIAMIS, PORTALOKA.ID - Hujan yang turun deras pada Minggu siang itu, 22 Februari 2026 awalnya hanya terdengar seperti biasa bagi warga Dusun Cikadongdong, Desa Sukahaji, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis.
Namun, sekitar pukul 14.30 WIB, suara gemuruh dari arah tebing mengubah segalanya. Tanah di pinggir jalan desa tiba-tiba runtuh.
Bukan sekadar longsor kecil. Tebing sepanjang kurang lebih 20 meter dengan tinggi sekitar 30 meter ambruk, membawa tanah, batu, dan akar pepohonan turun sekaligus. Debu tipis sempat mengepul, meninggalkan jalan yang biasa dilalui warga kini tertutup material cokelat basah.
Bagi Akoh, warga yang rumahnya hanya beberapa langkah dari bibir longsoran, peristiwa itu bukan sekadar bencana alam. Itu adalah ketakutan yang nyata.
Ia berdiri memandangi tebing yang kini berubah wajah. Rumahnya masih berdiri, tetapi bayangan kemungkinan terburuk belum benar-benar pergi. Rumah Daliah, tetangganya, juga berada dalam ancaman yang sama.
Beruntung, tidak ada korban jiwa. Namun, kecemasan menyelimuti kampung kecil itu.
Jalan desa yang biasanya menjadi jalur aktivitas warga kini terpaksa ditutup untuk kendaraan roda empat.
Jalan itu bukan hanya penghubung antarwilayah, tetapi juga jalur kehidupan, empat warga berangkat bekerja, anak-anak pergi sekolah, dan hasil bumi dibawa keluar kampung.
Baca Juga: Terungkap! Pangkal Masalah Guru Madrasah Swasta Sulit Ikut PPPK dan Kesejahteraan Tidak Meningkat
Tak butuh waktu lama, kabar longsor menyebar. Tanpa komando panjang, warga berdatangan.
Membawa cangkul. Membawa sekop. Membawa tenaga seadanya.
Mereka tidak bertanya, “Ini tugas siapa?” Mereka hanya tahu, ini kampung mereka.
Pemerintah desa, aparat kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Tagana, TKSK, hingga masyarakat sekitar larut dalam satu kerja bersama: gotong royong.