Babak kedua berubah jadi ujian kesabaran. Persiba Bantul menyerang dengan segala cara, sementara PSGC bertahan dengan disiplin dan doa yang tak putus.
Menit ke-73, benteng itu akhirnya runtuh. Sandi Samosir menyamakan skor menjadi 2-2, lagi-lagi lewat sundulan. Lagi-lagi dari sepak pojok dan luka yang sama.
Waktu normal habis. Perpanjangan waktu datang dan pergi tanpa gol. Kaki mulai berat, kepala mulai kosong. Tinggal adu penalti—ruang paling sunyi sekaligus paling berisik dalam sepak bola.
Di titik putih itu, PSGC menemukan jati dirinya. Satu per satu penendang melangkah dengan wajah dingin, seperti membawa seluruh Ciamis di punggung mereka. Empat penalti PSGC meluncur sempurna.
Baca Juga: Ramai Dikritik Warganet, Sekjen Gerindra Akhirnya Perintahkan Kader Bersihkan Bendera Partai
Di sisi lain, dua eksekutor Persiba gagal. Peluit panjang berbunyi, dan langit Solo menjadi saksi: PSGC menang 4-2.
Hujan tak berhenti. Air mata pun demikian. Para pemain berpelukan, sebagian sujud di rumput, sebagian menatap kosong ke tribun—seakan baru sadar mereka baru saja mengubah sejarah.
PSGC Ciamis resmi promosi ke Liga 2 musim 2026/2027. Juara ketiga Liga Nusantara bukan sekadar catatan klasemen, tapi kisah tentang keteguhan, kesabaran, dan keberanian berdiri di tengah badai.
Malam ini, Sriwedari bukan milik Solo. Ia milik Ciamis. Milik Laskar Singacala. Milik mimpi yang akhirnya sampai tujuan. Bravo PSGC!***