Sabtu, 18 Juli 2026

Antam Narseri UBPE Pongkor dan Cadangan Bibit untuk Reklamasi Berkelanjutan

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Jumat, 6 Maret 2026 | 16:01 WIB
Pengolahan emas antam di Gunung Pongkor (Ist)
Pengolahan emas antam di Gunung Pongkor (Ist)

PORTALOKA.ID - Nama PT Aneka Tambang Tbk dikenal luas sebagai perusahaan pertambangan di Indonesia. Sementara itu, Gunung Pongkor di wilayah Bogor Barat lekat dengan aktivitas tambang emas bawah tanah yang telah lama berlangsung di kawasan tersebut.

Karena itu, kata kunci Antam Pongkor sering menjadi pintu masuk bagi publik yang ingin memahami apa yang terjadi di lapangan. Mulai dari proses operasional, sistem keselamatan kerja, hingga dampaknya terhadap masyarakat di sekitar wilayah tambang.

Dalam konteks lingkungan, pengelolaan kawasan Gunung Pongkor membutuhkan pendekatan teknis yang tidak sederhana. Pemilihan jenis tanaman, pengaturan sistem drainase, stabilisasi lereng, hingga pemantauan pertumbuhan vegetasi harus dilakukan secara terencana agar kawasan tetap aman dan hijau.

Upaya pemulihan lingkungan di Pongkor juga menuntut kesabaran dan konsistensi. Hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, tetapi perbaikan kawasan justru ditentukan oleh kerja teknis yang dilakukan secara berkelanjutan di lapangan.

Baca Juga: Inisiatif Strategis ANTAM Memperkuat Kesejahteran Sosial dan Ekonomi di Pongkor

Bibit Menjadi Modal Awal Reklamasi

Narseri dan taman kehati di UBPE Pongkor diarahkan untuk pembibitan tanaman lokal dan endemik guna mendukung reklamasi dan revegetasi. Tanpa stok bibit yang baik, reklamasi sering berhenti pada niat karena pelaksanaan di lapangan tidak punya material tanam yang memadai.

Di sinilah narseri menjadi penting. Ia adalah fase hulu dari pemulihan kawasan. Sebelum pohon berdiri di lahan, seluruh rantai kerja dimulai dari pemilihan jenis, pembibitan, perawatan, dan kesiapan distribusi.

Narseri dan Taman Kehati dalam Satu Ekosistem

Taman kehati memperluas fungsi itu. Ia tidak hanya berperan sebagai ruang tanam, tetapi juga sebagai tempat edukasi tentang tanaman lokal, fungsi ekologis, dan hubungan antara reklamasi dengan keberlangsungan lanskap sekitar.

Pendekatan ini membuat artikel tentang narseri tidak terasa sempit. Pembaca dapat melihat hubungan yang lebih utuh antara bibit, tanah, vegetasi, satwa, dan masa depan kawasan.

Baca Juga: Kabar Baik untuk PPPK Paruh Waktu, Pemerintah Daerah akan Berikan THR Lebaran 2026, Total Anggaran Capai Rp3,9 Miliar

Keterlibatan Warga Membuat Program Lebih Hidup

Pelibatan masyarakat dalam pembibitan juga penting karena membuka peluang kerja, memperkuat pengetahuan lokal, dan membuat proses reklamasi tidak terasa jauh dari kehidupan desa.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X