PORTALOKA.ID - Indonesia mencatat tiga capaian strategis sekaligus dalam kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto di Amerika Serikat.
Capaian tersebut yaitu kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) yang turun jadi 19%, penandatanganan MoU kemitraan bisnis senilai Rp600 triliun, serta kepercayaan sebagai Wakil Komandan Pasukan Perdamaian dalam forum Board of Peace (BoP).
Founder Freedom Institute, Rizal Mallarangeng, menyebut capaian ini sebagai “hattrick” Indonesia di Washington DC.
“Kita ini kan berkah bulan puasa ini Indonesia membuat hat-trick di Amerika. Presiden Prabowo harus kita berikan dua jempol saya kira,” kata Celi, sapaan akrab Rizal Malarangeng dalam chanel Youtube Freedom Institute, Jumat, 20 Februari 2026.
Tiga capaian itu datang berurutan. Dimulai dari Business Summit yang mempertemukan Presiden Prabowo dengan para pengusaha besar Amerika dan Indonesia.
“Business Summit ya. Di mana Presiden Prabowo hadir. Dengan pengusaha-pengusaha raksasa Amerika. Juga pengusaha-pengusaha besar Indonesia yang dipimpin oleh Kadin,” ujarnya.
Pertemuan itu, kata Celi, bukan sekadar seremoni. Angka yang dihasilkan cukup mencolok.
“Itu menghasilkan kesepakatan perdagangan jumlahnya 38 miliar dolar,” tegasnya.
Selain komitmen perdagangan USD 38 miliar, diteken pula MoU kemitraan bisnis Indonesia–Amerika Serikat senilai sekitar Rp600 triliun, mencakup sektor energi, hilirisasi, manufaktur, teknologi, dan penguatan rantai pasok strategis.
Angka-angka itu dinilai menjadi fondasi konkret sebelum memasuki capaian berikutnya yang tak kalah penting: kesepakatan tarif bilateral. Proses negosiasi tarif, menurut Celi, bukan cerita semalam.
“Ya jadi ini puncak dari proses panjang ya. Puncak proses panjang yang ditandatangani hari kamis ya,” ujarnya. Tarif yang sebelumnya berada di angka 32 persen berhasil ditekan menjadi 19 persen.
Ia mengingatkan, dalam perdebatan soal tarif sering kali orang lupa pada satu hal mendasar bahwa tarif 19 pesen itu dibayar oleh rakyat Amerika.
Dalam konteks global yang tidak selalu ideal, ia menilai hasil ini sebagai capaian optimal.
“Dalam pengertian itu apa yang kita dapat sekarang itu optimal. Perjuangan setahun dengan drama dan naik dan turun,” sambungnya.
Artikel Terkait
Dari Kecerdasan Budaya Hingga Tantangan AI: Seminar Internasional FIPP Bedah Masa Depan Pendidikan dan Psikologi
Trump Puji Ketegasan Prabowo di Forum Board of Peace: Saya Tak Ingin Melawannya!
FIPP UNNES Gandeng Pakar Universiti Malaya, Jajaki Kolaborasi Riset hingga Joint Supervision
Rincian Gaji Guru Honorer Madrasah dari MI hingga MA, Paling Tinggi pun Masih di Bawah UMR
Cerita di Balik Lukisan 'Kuda Api' Karya SBY yang Laku Rp6,5 Miliar
Mahasiswa Universiti Malaya Ikut Student Exchange, Dalami Paradigma Baru Manajemen SDM di FIPP UNNES
TEGAS! DPR Minta Gaji Guru Harus Naik Tanpa Terhambat Administrasi dan Birokrasi
Indonesia Sukses Amankan Tarif 0 Persen bagi Ekspor Tekstil ke AS, 4 Juta Lapangan Kerja Terima Manfaat
PPPK Paruh Waktu Guru dan Tenaga Kependidikan Dipastikan Dapat Gaji ke-13 dan 14 di Tengah Keterbatasan Anggaran
Ciamis Siap Jadi Sentra Kacang Tanah Nasional, Program Terintegrasi Libatkan Petani dan Kementerian Pertanian