Rabu, 8 Juli 2026

Melalui Tenun Modern dan Pameran BRI, Kriti by Lusy Jajaki Potensi Wastra Nusantara di Pasar Mancanegara

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Sabtu, 3 Januari 2026 | 09:41 WIB
Kriti by Lusy jajaki pasar mancanegara berkat pendampingan BRI (Ist)
Kriti by Lusy jajaki pasar mancanegara berkat pendampingan BRI (Ist)

PORTALOKA.ID - Indonesia dikenal sebagai negeri seribu kain, dengan ragam wastra seperti batik, songket, lurik, hingga sasirangan yang sarat makna dan nilai budaya.

Namun, di tengah perkembangan gaya hidup modern, wastra kerap dipersepsikan kurang praktis untuk dikenakan dalam aktivitas sehari-hari.

Alhasil, kebutuhan akan desain yang lebih relevan dan adaptif inilah yang kemudian mendorong lahirnya Kriti by Lusy.

Didirikan oleh Lusy Rachmat pada 2017, UMKM fashion asal Bogor ini menghadirkan beragam koleksi busana wanita, mulai dari atasan, celana, rok, tunik, hingga vest, dengan memadukan tenun dan lurik sebagai elemen utama.

Baca Juga: Optimis Menyambut Tahun 2026, Direktur Utama BRI Tegaskan Keyakinan pada Transformasi dan Strategi Pertumbuhan Jangka Panjang

Kedua material tersebut dipilih karena memiliki karakter desain yang timeless, sehingga mudah dipadupadankan dan lebih diterima oleh masyarakat lintas generasi.

“Tercetus ide Kriti by Lusy karena saat itu sering bertemu dengan teman-teman wanita dan mereka mengeluh mempunyai bahan tenun, tetapi tidak tahu bagaimana memanfaatkannya, sehingga saya mempunyai ide kain tenun untuk bisa di-design menjadi baju mix dengan tenun lurik,” ucap Lusy.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa proses produksi menjadi bagian penting dari karakter Kriti by Lusy. Lusy ingin setiap karya yang dihasilkan tidak hanya berkualitas, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Karena itu, ia pun melibatkan penjahit lokal di sekitar tempat tinggalnya serta bekerja langsung dengan para pengrajin tenun untuk memastikan setiap detail bahan tetap terjaga.

Baca Juga: Skema Gaji Terbaru PPPK Paruh Waku Lampung Selatan, Pemda Siapkan Anggaran Rp91 Miliar, Segini Gaji per Bulannya

Bahkan, Lusy membatasi jumlah produksi agar setiap desain memiliki nilai eksklusif. Dengan pola kerja tersebut, kapasitas produksinya saat ini berada di kisaran 100–200 potong per bulan.

“Selain konsisten menjaga kualitas produk, menurut saya, perjalanan Kriti by Lusy juga semakin berkembang berkat bergabung dengan Rumah BUMN BRI pada tahun 2018. Melalui ekosistem pemberdayaan tersebut, saya bisa memperoleh akses pelatihan, dan fasilitas pemasaran dari program Growpreneur by BRI secara mudah, hal ini sangat membantu saya dalam menata strategi bisnis,” terangnya.

Lusy pun semakin percaya diri untuk memperluas jangkauan pasar. Ia berkata, berbagai fasilitas pendampingan dari BRI membuka peluang baginya untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada calon pembeli yang lebih luas.

Tak hanya di dalam negeri, upaya pemasaran Kriti by Lusy juga merambah pasar internasional melalui partisipasi dalam berbagai pameran di Malaysia, Singapura, Thailand hingga China. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Lusy dalam menjajaki potensi wastra modern Indonesia di pasar global.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X