Baca Juga: Misalin: Tradisi Budaya Galuh Salawe, Simbol Syi'ar Islam dalam Upacara Adat
Budayawan Panglawungan Galuh Kiwari, Abah Hendra, mengatakan, tradisi ini menjadi pengingat agar generasi muda tidak tercerabut dari akarnya.
Di tengah perubahan zaman yang cepat, nadran menjadi jangkar budaya yang menahan ingatan kolektif masyarakat agar tetap hidup.
Tradisi Nadran sendiri dikenal luas di Tatar Sunda sebagai bentuk rasa syukur, yang di beberapa daerah juga berkaitan dengan hasil panen atau keselamatan kampung.
Di situs Ki Buyut Manguntapa, ritual ini lebih menekankan pada ziarah kubur dan penghormatan kepada tokoh leluhur yang diyakini berjasa membuka wilayah tersebut.
Baca Juga: Kaweruh Leluhur Galuh: Situs Gunung Galuh di Sindangrasa Kabupaten Ciamis
Menjelang siang, satu per satu warga mulai meninggalkan lokasi setelah makan siang dan bersalaman. Namun suasana sakral masih terasa, seolah doa-doa yang dipanjatkan masih bergema di antara pepohonan tua.
Situs Ki Buyut Manguntapa kembali sunyi, menunggu waktu ketika anak cucu akan datang lagi—membawa bunga, doa, dan ingatan.
Di tempat ini tradisi tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali, oleh mereka yang masih percaya pada jejak leluhur.***