Kecerdasan buatan memang mampu memproses miliaran data dalam waktu singkat.
Namun AI tidak memiliki empati.
AI tidak memahami kesedihan seorang peserta didik yang kehilangan orang tua.
AI tidak mampu membaca kecemasan seorang anak yang mengalami bullying.
AI tidak dapat memberikan keteladanan melalui sikap dan perilaku.
AI juga tidak mampu membangun ikatan emosional sebagaimana hubungan antara guru dan murid.
Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan positif antara guru dan peserta didik merupakan salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan belajar.
Karena itu, pendidikan akan selalu membutuhkan sentuhan manusia.
Tantangan Etika dalam Pemanfaatan AI
Di balik berbagai manfaatnya, AI juga menghadirkan tantangan yang tidak dapat diabaikan.
Fenomena plagiarisme, penyebaran informasi yang keliru (hallucination), bias algoritma, pelanggaran privasi data, hingga ketergantungan peserta didik terhadap AI menjadi isu yang perlu mendapat perhatian serius.
UNESCO (2021) melalui Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence menekankan bahwa pemanfaatan AI harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, transparansi, akuntabilitas, serta perlindungan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, guru tidak hanya dituntut mampu menggunakan AI, tetapi juga mampu mengajarkan etika penggunaan AI kepada peserta didik.
Baca Juga: Bahaya Negara Terus Menerus Menganaktirikan Kesetaraan dan Kesejahteraan Guru Madrasah Swasta