Baca Juga: Semar Edupark, Wisata Edukasi di Karanganyar yang Dapat Dikunjungi Saat Libur Natal dan Tahun Baru
Yang tidak kalah uniknya, transaksi di pasar ini memakai kepingan dari kayu jati berbentuk bulat yang sebelumnya telah ditukarkan dengan uang asli.
Selain itu, seluruh pedagang dan semua stakeholder yang terlibat dalam kegiatan wajib menggunakan pakaian adat jawa.
Beskap lurik dengan memakai blangkon untuk laki-laki dan baju motif lurik ditambah jarik untuk wanita.
Alat-alat dan sarana yang digunakan oleh pedagang juga wajib memakai bahan-bahan dari gerabah ataupun anyaman bambu.
Ketika mengolah atau memasak, semua pedagang dilarang menggunakan kompor minyak atau gas maupun listrik. Semua diwajibkan menggunakan arang atau kayu sebagai bahan bakarnya.
Adapun tujuan dari pasar kuliner ini yaitu sebagai salah satu wadah untuk melestarikan budaya jawa yang sudah mulai tereduksi oleh budaya asing.
Dampak Pasar Dhoplang bagi Masyarakat
Dengan adanya Pasar Dhoplang, masyarakat setempat mendapatkan dampak dan manfaatnya lho.
Adapun manfaat dan dampak dari Pasar ini diantaranya adalah sebagai berikut:
Baca Juga: Serunya Berpetualang di Kopi Botanika, Tempat Wisata Hits di Kuningan, Nggak Sebatas Wisata Kuliner
Pasar Dhoplang sudah menyerap tenaga lebih dari 65 orang warga Desa Pandan untuk terlibat dalam kegiatan ini
Pasar ini mampu menumbuhkan ekonomi warga dengan perputaran uang yang beredar di Pasar Dhoplang sebesar Rp30-40 juta.
Pada momen tertentu bisa mencapai Rp60-70 juta, seperti momen ultah Dhoplang ataupun ketika ada kunjungan bupati.