Baca Juga: Guru RA hingga MA Full Senyum, Kemenag Tetap Berikan Tunjangan Insentif Meski Ada Efisiensi Anggaran
Seperti diketahui, BRI telah sukses menyelenggarakan BRI UMKM EXPO(RT) 2025 yang resmi ditutup pada Minggu, 2 Februari 2025.
Melalui inisiatif strategis ini, BRI terus berkomitmen untuk mendorong semakin banyak UMKM binaan yang naik kelas dan berhasil menjangkau pasar internasional.
Acara yang berlangsung pada 30 Januari hingga 2 Februari 2025 di ICE BSD City tersebut sukses dihadiri oleh lebih dari 69 ribu pengunjung, mencatatkan transaksi lebih dari Rp40 miliar dan berhasil merealisasikan kontrak ekspor mencapai USD 90,6 juta atau sekitar Rp1,5 triliun.
Di acara tahunan BRI tersebut, Agrominafiber Handicraft pun menghadirkan inovasi terbaru, yakni bio leather.
Inovasi tersebut terbuat dari bahan serat pisang. Tak hanya ramah lingkungan, produk tersebut juga sedang tren di pasar global.
“Bio leather ini menjadi salah satu inovasi kami di BRI UMKM EXPO(RT) 2025. Selain ramah lingkungan, produk ini juga sedang tren di pasar global,” ujar Novita.
Partisipasi Agrominafiber Handicraft dalam BRI UMKM EXPO(RT) bukan hanya di tahun ini saja, Novita mengungkapkan bahwa usahanya sudah mengikuti pameran tersebut sejak tahun 2023.
Bagi Novita, tampil di BRI UMKM EXPO(RT) menjadi titik balik penting bagi bisnisnya. Menurutnya, acara tersebut bukan sekadar pameran, tetapi juga ajang untuk membangun jaringan dan kepercayaan dari pasar internasional.
Baca Juga: 2 Talut Jalan Antar Desa Longsor di Logede Karangnongko Klaten Akibat Hujan Deras
“Di tahun 2023, nama Agrominafiber Handicraft mulai dikenal berkat acara ini. Branding dan networking kami semakin kuat. Pemasaran produk dekorasi memang tidak bisa instan. Tapi, setelah lolos seleksi dan mengikuti acara BRI, kepercayaan dari pasar internasional semakin meningkat,” jelas Novita.
Berdayakan Masyarakat Lokal
Novita tak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat sekitar. Agrominafiber Handicraft melibatkan warga lokal dalam setiap tahap produksi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga pembuatan produk akhir.
“Kami melatih masyarakat untuk mengolah serat pisang dan pandan. Ini menjadi bagian dari tanggung jawab sosial kami,” ujarnya.