Baca Juga: BGN Hentikan Permanen 4 SPPG, Salah Satunya Bikin Ratusan Siswa Keracunan MBG
Ia menyebut selama dirinya menjabat terdapat dua orang yang berkaitan dengan proses pemberhentian. Namun, menurut Deni, keputusan akhir bukan berada di tangannya.
Deni tidak menampik bahwa dirinya kemudian mengubah pola kepemimpinan menjadi lebih tegas.
Perubahan itu, menurutnya, terjadi setelah adanya penilaian dari pihak perwakilan yayasan atau mitra yang menganggap dirinya terlalu lemah dalam memimpin SPPG.
Deni mengaku pernah beberapa kali ditanya mengenai tindak lanjut kepemimpinannya, termasuk kemungkinan pergantian kepala SPPG.
Baca Juga: Gaya Disiplin Kepala SPPG Mekarjadi Ciamis Dipersoalkan, Disebut Ala Militer
“Beliau membawa ranah sampai menyebut tiga kali kepada saya, bagaimana tindak lanjutnya, apakah mau diganti kepala atau tidak. Itu sudah terjadi tiga kali, saya ada buktinya,” ungkapnya.
Ia juga mengaku mendapat penilaian bahwa dirinya tidak cukup tegas dalam mengambil keputusan.
“Beliau menyebutkan bahwa SPPG yang memimpin Mekarjadi adalah orang lemah, tidak punya ketegasan dan memang tidak bisa mengambil keputusan,” kata Deni.
Penilaian tersebut kemudian menjadi alasan bagi Deni untuk mengubah pola kepemimpinannya.
Namun, ia menegaskan bahwa ketegasan tidak serta-merta berarti memberikan hukuman.
“Ketegasan saya dalam berbicara dulu. Masih tidak mempan juga, baru karena hukuman yang sifatnya masih formal dan normal, seperti squat jump, bending ataupun push up,” jelasnya.
Deni selanjutnya mengungkap adanya dua orang yang menurutnya memang berkaitan dengan pemberhentian selama dirinya menjabat.
Satu di antaranya disebut memiliki hubungan keluarga dengan pihak mitra. Sementara satu lainnya berkaitan dengan dugaan persoalan hubungan pribadi atau perselingkuhan di lingkungan SPPG.