PORTALOKA.ID - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan.
Titik api dan dampak kabut asap masih dirasakan oleh warga yang tinggal di Kalimantan Selatan.
Dampak kebakaran tersebut juga mengganggu kehidupan satwa liar ketika hutan mulai dilalap si jago merah.
Kematian Satwa Akibat Karhutla
Baru-baru ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) melaporkan kematian satwa di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Baca Juga: Pangkas Dana Transfer ke Daerah, Prabowo Ungkap Banyak Pemda Tak Gunakan Anggaran dengan Baik
Area tersebut mengalami kebakaran lahan pada Minggu, 13 Desember 2026 dan Tim Rescue Satwa BKSDA kalsel melakukan pengecekan pada keesokan harinya, Senin,14 September 2026.
Tim menemukan satwa yang mati akibat kebakaran lahan, terdiri dari 12 ekor bekantan, 1 ekor ular piton dan 1 ekor ular king kobra.
Habitat satwa di lokasi kejadian merupakan APL (areal penggunaan lain) atau area di luar kawasan hutan, yang terdiri dari tanah desa yang memiliki luas kurang lebih 8 hektare dengan tutupan vegetasi yang terdiri dari semak, galam, renghas, bungur dan halaban, dan tanah milik dengan luas kurang lebih 1,3 hektare.
Kebakaran di Area Tempat Tinggal Bekantan
Lebih lanjut, area yang terbakar merupakan tanah desa dan hak milik dengan populasi puluhan bekantan di dalamnya.
Baca Juga: Polisi Tetapkan 138 Tersangka Pembakaran Hutan dan Lahan, Terancam Pasal Berlapis
“Dari keterangan Kepala Desa Balimau terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan tersebut, namun jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan setelah kebakaran melanda habitat satwa dilindungi tersebut,” kata Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna dalam keterangannya, dikutip pada Rabu, 16 April 2026.
Adapun menurut data bekantan dari BKSDA Kalsel, pada tahun 2025 ada sebanyak 3.757 ekor yang tersebar di 11 kabupaten atau kota di Kalimantan Selatan baik di dalam kawasan konservasi maupun di luar kawasan konservasi.