"Kita perlu terus mendiseminasikan dan mengembangkan konseling Indonesia, bukan sekadar konseling di Indonesia," tegasnya.
Saat ini, terdapat tiga disertasi yang sedang memvalidasi pendekatan ini lebih lanjut.
Baca Juga: PGMM Siap Kepung Gedung DPR, Suarakan 2 Tuntutan Guru Madrasah Swasta, Salah Satunya soal PPPK
Paparan Narasumber II: Mindful Parenting dan Harmoni Keluarga
Dr. Arri Handayani, S.Psi., M.Si. (Dekan FIP UPGRIS) mempresentasikan integrasi mawas diri dengan mindful parenting. Ia menyoroti fenomena orang tua yang hadir secara fisik namun absen secara psikis.
Menurutnya, harmoni keluarga adalah kemampuan mengelola konflik secara konstruktif melalui komunikasi terbuka dan dukungan psikologis yang tulus.
"Bukan anak yang harus diubah sendirian, tetapi orang tua yang mawas diri terlebih dahulu terhadap apa yang terjadi dalam interaksi mereka bersama anak," jelas Dr. Arri.
Mauidhoh Hasanah: Ramadhan sebagai Training Center
Prof. Dr. Ali Murtadho, M.Pd. menguraikan bahwa Ramadhan adalah "Training Center" kehidupan untuk melatih tiga nilai utama: amanah (kejujuran), pengendalian diri, dan rasa syukur.
Ia menekankan bahwa Halal Bi Halal adalah tradisi khas Indonesia untuk menyempurnakan hubungan antarmanusia melalui proses saling memaafkan.
Signifikansi dan Arah ke Depan
Seminar ini memperkuat legitimasi konseling berbasis kearifan lokal (indigenous counseling) sebagai alternatif teoretis yang relevan bagi masyarakat Indonesia.
PB ABKIN berharap model kolaborasi lintas institusi ini dapat direplikasi oleh pengurus daerah di seluruh Indonesia untuk memperkuat ekosistem BK nasional.***