Sabtu, 18 Juli 2026

ABKIN Gelar Seminar Nasional dan Halal Bi Halal Bertema Revitalisasi Harmoni Keluarga

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Sabtu, 11 April 2026 | 20:23 WIB
Halal bi halal dan seminar nasional ABKIN (Ist)
Halal bi halal dan seminar nasional ABKIN (Ist)

SEMARANG, PORTALOKA.ID - Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PB ABKIN) bekerja sama dengan Pengurus Daerah ABKIN Jawa Tengah, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), dan Universitas Muria Kudus (UMK) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional sekaligus Halal Bi Halal pada Sabtu, 11 April 2026.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini dihadiri oleh akademisi, praktisi, guru BK, mahasiswa, serta pengurus daerah ABKIN dari seluruh Indonesia.

Tema yang diusung menjadi ruang refleksi akademis sekaligus silaturahmi profesional di bulan Syawal 1447 H.

Momentum Idul Fitri dimaknai sebagai kesempatan strategis untuk melakukan introspeksi diri (mulat sarira) guna memulihkan harmoni dalam relasi keluarga dan organisasi profesi.

Baca Juga: Miris, Tidak Punya Ruang Kelas, Siswa SD di Manggarai Barat Belajar di Bawah Pohon

Sambutan Ketua Umum PB ABKIN

Ketua Umum PB ABKIN, Prof. Dr. Moh. Farozin, M.Pd., menegaskan bahwa ilmu Bimbingan dan Konseling (BK) harus terus melakukan pengembangan, baik pada tataran keilmuan maupun peningkatan layanan.

"Hari ini kita melakukan pengembangan yang lebih khusus pada konseling dengan mengkaji pendekatan Ki Ageng Suryomentaram. Mudah-mudahan ilmu ini bermanfaat dan dapat diterapkan dalam dunia pendidikan," ujar Prof. Farozin.

Dia juga menyerukan agar seluruh warga ABKIN memperkuat ekosistem digital BK dan merawat kedamaian internal organisasi sebagai modal utama pelayanan profesi.

Baca Juga: TOP 10 Kampus Negeri Terfavorit dengan Pendaftar SNBP 2026 Terbanyak, Juaranya Bukan UI

Paparan Narasumber I: Konseling Berbasis Roso dan Mulat Sarira

Prof. Dr. Adi Atmoko, M.Si., M.Pd. memaparkan pendekatan konseling Ki Ageng Suryomentaram yang berpusat pada konsep roso (rasa) dan mulat sarira (mawas diri).

Ia menjelaskan bahwa kunci kedamaian jiwa terletak pada kemampuan membedakan antara rasa yang asli (tulus) dengan rasa yang ditumpangi kepentingan eksternal.

Prof. Adi menegaskan bahwa teori roso ini setara dengan teori konseling Barat, seperti teori Lazarus.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X