Baca Juga: Jejak Kecil di Bulan Suci: Cara MIS Sitularang Ciamis Menanamkan Iman dan Akhlak Sejak Dini
Di Pasar Manis, kenaikan harga tidak pernah sekadar soal angka. Ia adalah percakapan yang berulang, wajah-wajah yang berubah, dan keputusan-keputusan kecil yang harus diambil dengan hati-hati.
Bagi pedagang cabe, harga tinggi bukan berarti hidup lebih mudah. Justru sebaliknya, pembeli menjadi lebih sedikit. Banyak yang datang, melihat, lalu pergi tanpa membawa apa-apa.
Kepala UPTD Pasar Manis Ciamis, Dana Sudiana, memahami kegelisahan itu. Ia mengatakan kenaikan harga cabe merah terjadi karena pasokan berkurang, sementara permintaan meningkat selama Ramadhan. Cuaca memengaruhi hasil panen, dan pasar hanya menjadi ujung dari cerita panjang yang dimulai dari ladang.
Menjelang siang, cahaya matahari mulai masuk melalui sela-sela atap pasar. Cabe merah itu masih tersusun rapi, menyala dengan keindahan yang sama. Tapi kini ia memikul makna baru—tentang dapur yang harus berhemat, tentang pembeli yang belajar mengurangi, dan tentang pedagang yang menunggu dengan sabar.
Sementara itu, kolang-kaling tetap dibeli, ditimbang, dan dibawa pulang. Ia mungkin tidak setajam cabe merah, tidak sepenting bumbu utama, tetapi di bulan Ramadhan, ia memiliki perannya sendiri: menghadirkan rasa manis di tengah hari yang panjang.
Di Pasar Manis Ciamis, Ramadhan tahun ini memperlihatkan dua wajah kehidupan. Cabe merah, dengan harga yang melonjak, menjadi simbol betapa sesuatu yang dekat bisa tiba-tiba terasa jauh. Dan kolang-kaling, dengan kesederhanaannya, menjadi pengingat bahwa selalu ada cara bagi kebahagiaan untuk tetap hadir, meski dalam bentuk yang paling sederhana: semangkuk kolak hangat saat adzan Maghrib tiba.***