CIAMIS, PORTALOKA.ID - Kabupaten Ciamis kembali kehilangan salah seorang ulama yang selama puluhan tahun memilih jalan sunyi dalam menjaga warisan syiar Islam.
KH Moch Ali bin Mama Sulaiman Jamal, pengasuh Pondok Pesantren Tanjungmanggu, Sindangrasa, Kabupaten Ciamis, berpulang ke rahmatullah, Kamis, 10 September 2026, tepat pukul 19.00 WIB.
Kepergian KH Moch Ali meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat yang selama ini mengenal sosoknya sebagai ulama yang teguh memegang tradisi keilmuan pesantren.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, KH Moch Ali tetap memilih bertahan pada jalur dakwah yang sederhana. Ia tidak banyak mengejar sorotan. Pesantren, santri, pengajian, dan ketekunan menjaga ajaran Islam menjadi ruang pengabdiannya.
Baca Juga: BRI Multiguna Pre-Approved Solusi Kebutuhan Dana Anda, Mudah dan Cepat, Simak Cara Pengajuannya
Karena itu, menyebut KH Moch Ali sebagai ulama ortodoks bukan semata-mata menggambarkan sikap keagamaannya. Istilah itu juga menjadi penanda bagaimana ia menjaga kesinambungan tradisi Islam pesantren yang diwariskan para pendahulu.
Dari Tanjungmanggu, Sindangrasa, suara pengajian dan pendidikan pesantren menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat. KH Moch Ali hadir sebagai salah satu penjaga mata rantai tersebut.
Ia merawat sesuatu yang sering kali tidak terlihat: tradisi, adab, ilmu, dan keteladanan.
Ulama seperti KH Moch Ali mungkin tidak selalu berada di panggung besar. Namanya tidak setiap hari muncul dalam pemberitaan. Namun, jejak pengabdian seorang ulama sering kali justru tumbuh diam-diam melalui santri yang pernah duduk di hadapannya, masyarakat yang pernah meminta nasihat, serta keluarga yang merasakan keteduhan dari keberadaannya.
Baca Juga: Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjar Tagih Kewajiban Uji Laboratorium IPAL SPPG Setiap Tiga Bulan
Kini, sosok itu telah tiada.
Kamis malam menjadi batas antara hadir dan pergi. Pukul 19.00 WIB, KH Moch Ali meninggalkan dunia yang selama ini menjadi ladang pengabdiannya menuju ke hadirat Allah SWT.
Kepergiannya mengingatkan bahwa kehidupan seorang ulama tidak selalu diukur dari seberapa sering ia dikenal, tetapi dari seberapa lama nilai yang diajarkannya tetap hidup setelah dirinya tidak lagi berada di tengah umat.
Tanjungmanggu kehilangan penjaga sunyinya. Ciamis kehilangan salah satu mata rantai ulama pesantren yang selama ini ikut merawat tradisi keislaman.
Artikel Terkait
Ratusan Siswa di Pati Diduga Keracunan MBG Basi, Makanan Dilaporkan Berasal dari SPPG Gembong 1
Polres Ciamis Jadikan Haornas ke-43 Momentum Bangun Budaya Hidup Sehat Personel
Lepas Kontingen Asian Games 2026, Prabowo Berpesan para Atlet Berikan Performa Terbaik
Prabowo Janji Beri Bonus Rp3 Miliar bagi Atlet Peraih Medali Emas Asian Games 2026
Pengakuan Orang Tua di Pati, Anaknya Alami Mual-Muntah hingga Mimisan Usai Diduga Keracunan MBG
Boy Thohir Borong 30 Juta Saham MGLV di Tengah Transformasi Bisnis Data Center
Anak Krakatau Bergeliat, Sirine Peringatan Tsunami Kini Disebar di Wilayah Pesisir Banten
Update Korban Dugaan Keracunan MBG Kedaluwarsa di Gembong Pati: 154 Siswa Dirawat Jalan