PORTALOKA.ID - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sudah berjalan selama 1,5 tahun ini masih terus menuai sorotan masyarakat.
Pengelolaan di lapangan sering mendapat protes dari masyarakat sampai muncul gerakan untuk menolak hingga mendesak penghentian program yang dimulai pada 6 Januari 2025 tersebut.
CEO Promedia Group, Agus Sulistriyono, memberikan masukan perbaikan program MBG berdasarkan permasalahan yang banyak disuarakan masyarakat.
Menurutnya, narasi program MBG untuk memperbaiki gizi anak sekolah harus diganti. Banyak masyarakat justru terjebak mempersoalkan gizi dari makanan yang disajikan. Narasi akan lebih tepat jika program ini diarahkan untuk pembukaan lapangan kerja dan memperbesar perputaran ekonomi di daerah.
Baca Juga: Pagu Anggaran 2027 Rp270 Triliun, BGN Buka Peluang Siswa SMA Tak Mendapat MBG Lagi
“Program MBG jalan terus, tentunya dengan berbagai perbaikan agar lebih tepat sasaran. Ini program pembukaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, tapi perdebatan selalu soal gizi karena memaksakan narasi makan bergizi,” ucap Agus pada Rabu, 17 Juni 2026.
“Seandainya tetap dengan narasi perbaikan gizi dan mencegah stunting maka nominalnya tidak segitu. Penerima manfaat fokusnya juga bergeser ke ibu hamil,” tambahnya.
Sama halnya dengan penggunaan kata ‘gratis’ yang menjadi polemik di masyarakat. Karena program MBG menyedot banyak anggaran dari APBN. Dana APBN milik rakyat, jadi kata ‘gratis’ banyak dipersoalkan.
Mengurangi Dapur SPPG, Giatkan Dapur Skala Kecil
Keberadaan titik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang pembangunannya membutuhkan biaya besar, juga banyak dipersoalkan. Akan lebih menjangkau banyak pihak jika ukuran dapur diperkecil.
Saat ini satu SPPG dirancang bisa melayani 3.000-3.500 porsi per hari. Sehingga dibutuhkan bangunan dapur yang besar dan peralatan yang banyak. Modal membangun satu titik SPPG bisa milyaran. UMKM sulit ikut berpartisipasi menyiapkan dapur makanan.
“Karena konsep SPPG yang sekarang butuh modal besar, akhirnya pemiliknya ya orang-orang berduit saja. Jangan heran jika pemilik SPPG banyak dari para politisi, pejabat, pengusaha, DPR, TNI, Polri seperti yang banyak dipersoalkan saat ini. Level UMKM, kantin sekolah, katering kecil pun tersingkir,” terangnya.
Bahkan Sulis, panggilan akrab CEO Promedia Group ini mengusulkan nama SPPG diganti menjadi ‘Katering Warga’ atau ‘Dapur Nusantara’ dengan ukuran lebih kecil. Maksimal melayani 500 porsi sehari. Sehingga 1 dapur SPPG bisa dipecah menjadi 6 ‘Dapur Nusantara’.
Artikel Terkait
Viral Video Pria Berdiri di Rooftop saat Mahasiswa Demo di Bundaran HI: Udah Nemu 3 Orang di Pinggir Gedung Tinggi
Serba-serbi Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa di Bundaran HI: Dari Kopi Hitam hingga Sate Padang Dibagikan Warga kepada Peserta
Rencana PGMM Usulkan Norma Baru di Revisi UU Sisdiknas, Buka Jalan PPPK dan Kesejahteraan Guru Madrasah Swasta
ICW Soroti Sony Sonjaya yang Ingin jadi JC Kasus Dugaan Jual Beli Titik SPPG: Biarkan Dia Bersuara dan Membongkar
Belum Resmi Beroperasi, Gedung Kopdes di Pacitan Mendadak Viral usai Dipakai Warga untuk Resepsi Pernikahan
DPR Mengapresiasi Langkah Baru Bank Indonesia Perkuat Rupiah
326 Kepsek di Sulsel Dikabarkan Mundur usai Temuan BPK, Dipicu Masalah Kelola Dana BOS
Mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Ngaku Temukan Alat Pelacak Tersembunyi Tertanam di Mobilnya Sepulang dari Aksi Gejayan
15 Twibbon Tahun Baru Islam 1448 Hijriah Gratis! Cek Link Downloadnya di Sini
Event BTN Jakim 2026 jadi Sorotan, Disebut Minim Tim Medis Susah Ditemukan saat Sejumlah Pelari Pingsan