PORTALOKA.ID - Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat Papua, program Cetak Sawah Rakyat (CSR) yang digagas pemerintah melalui Kementerian Pertanian disambut antusias oleh para petani.
Mereka menilai program ini menjadi jawaban atas kebutuhan pangan yang terus berkembang, sekaligus membuka harapan baru bagi generasi muda di daerah.
Bagi para petani di Papua, kehadiran sawah baru tidak hanya membuka peluang untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan konsumsi yang terjadi dari waktu ke waktu.
Markus Homer, Kepala Kampung Tokas, di Distrik Moswaren, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, mengatakan masyarakat di daerahnya menyambut baik pembukaan 3.700 hektare lahan sawah melalui program CSR.
Menurut Markus yang juga Ketua Kelompok Tani Rata Jaya, pemanfaatan lahan baru dan optimalisasi lahan yang sebelumnya kurang produktif menjadi area persawahan memberikan harapan baru bagi masyarakat untuk memperkuat ketersediaan pangan, baik saat ini maupun di masa mendatang.
“Jadi kami sangat luar biasa antusias (dengan) program yang diturunkan oleh Presiden kepada kami orang Papua. Kami sangat senang karena pangan ini, bagi kami masyarakat, untuk kehidupan kami masyarakat ke depan,” ujar Markus saat diwawancara.
Markus menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua 2026 yang dipimpin Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (11/6).
Acara itu dihadiri sekitar 200 peserta dari Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua.
Ia menilai perubahan zaman telah membawa perubahan pada pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda yang kini semakin akrab dengan beras sebagai makanan pokok.
“Jadi generasi kami sudah berubah, sudah canggih. Generasi (sekarang) tidak bisa berada (mengonsumsi) makanan-makanan lokal. Mereka sudah adaptasi dengan makanan-makanan yang sudah disiapkan, mungkin nasi,” katanya.
Selain perubahan pola konsumsi, Markus juga menyoroti perubahan cara masyarakat mengelola lahan. Jika dahulu masyarakat terbiasa berpindah-pindah lokasi berkebun setelah enam hingga sembilan bulan, kini pola tersebut semakin sulit dilakukan sehingga keberadaan lahan sawah menetap menjadi solusi yang dinilai relevan.
“Karena sudah perkembangan sekarang, kita berkebun adalah (tanam) pangan di satu lokasi, satu tempat, kita hanya tinggal olah saja, tidak bisa dipindah-pindah lagi. Maka itu kemarin kami di Sorong Selatan, kami terima 3.700 hektare yang kemarin sudah dikerjakan di tahun 2025. Sudah percetakan sawah, di tahun 2026 kita siap mau tanam,” ucapnya.
Artikel Terkait
Begini Tanggapan Sufmi Dasco Ahmad soal Pembelian Saham BCA
SELAMAT! MI Bojongsari Maleber Raih Peringkat 3 Sekolah Adiwiyata Tingkat Kabupaten Ciamis, Siap Melaju ke Tingkat Nasional
Bertemu PGMM dan GM Pro, Ketua Baleg DPR Beberkan Perkembangan Terbaru Tuntutan Guru Madrasah dan Sekolah Swasta
Perkuat Kompetensi dan Silaturahmi, MGMP PAI MTs se-Kabupaten Bondowoso Teguhkan Kurikulum Berbasis Cinta
Jembatan Kaca Bromo Siap Dikunjungi Wisatawan pada Musim Libur Sekolah 2026
Kepala BGN Nanik Deyang Bakal Setop Distribusi MBG ke Sekolah Elite, 'Refocussing' Jadi Alasannya
Bahaya Negara Terus Menerus Menganaktirikan Kesetaraan dan Kesejahteraan Guru Madrasah Swasta
Mendagri Sodorkan 3 Solusi Strategis Agar PPPK Tak Diberhentikan di Tengah Pembatasan Belanja Pegawai Maksimal 30 Persen
Deretan SMK Swasta Favorit di Jogja Lengkap dengan Program Keahliannya, Pilihan Terbaik pada SPMB 2026