Indonesia juga membentuk kemitraan strategis dengan Rusia dan Thailand, serta kemitraan strategis komprehensif dengan Vietnam.
“Dalam setahun terakhir, kita menyepakati tujuh kerja sama di bidang pertahanan serta 16 perjanjian penegakan hukum, termasuk di antaranya dengan Australia, Kanada, Prancis, Turki, dan Yordania."
"Kita juga membentuk kemitraan strategis dengan Rusia dan Thailand, serta kemitraan strategis komprehensif dengan Vietnam,” sebut Sugiono.
Menlu menekankan bahwa di era meningkatnya risiko salah perhitungan dan ketika persepsi menjadi faktor penting, sinergi kebijakan luar negeri dan pertahanan menjadi instrumen stabilisasi.
Baca Juga: Presiden Prabowo Ingatkan Petinggi BUMN: Kalau Tak Sanggup Mengabdi, Berhenti Saja
Dalam praktiknya, ketahanan Indonesia tidak dibangun melalui unjuk kekuatan, melainkan melalui kepastian, pencegahan, serta pembukaan ruang dialog.
“Berbagai kesepakatan ini merupakan komitmen untuk memperdalam kepastian kerja sama dan interoperabilitas."
"Sepanjang satu tahun terakhir, kita juga telah melakukan empat dialog 2+2 antara Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan dengan negara mitra kunci, yaitu Tiongkok, Jepang, Australia, dan pada awal tahun ini dengan Turki,” terangnya.
Posisi Indonesia dengan politik luar negeri bebas aktif tetap berlandaskan amanat konstitusi untuk melindungi segenap bangsa, menjaga kepentingan nasional, serta turut melaksanakan ketertiban dunia, dengan pendekatan yang adaptif dan realistis. ***
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Ingatkan Petinggi BUMN: Kalau Tak Sanggup Mengabdi, Berhenti Saja
Siswi Sekolah Rakyat Dasar Beri Surat ke Presiden Prabowo: Terima Kasih Kami Bisa Merasakan Sekolah
Prabowo Kagum Lihat Anak Cleaning Service hingga Ojol Orasi 4 Bahasa Asing di Peresmian Sekolah Rakyat
Terus-Terusan Bilang Jangan Korupsi Ke Dirut Pertamina, Prabowo Beri Pesan Khusus Simon Aloysius Mantiri
Siswi SMA Taruna Nusantara Titipkan Harapan Masa Depan kepada Prabowo: Indonesia Bisa Makin Maju