Minggu, 19 Juli 2026

Refleksi Akhir Tahun 2025, Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Serukan Solidaritas dan Keteladanan Elit Bangsa

Photo Author
Wulan Kurnia Putri, Portaloka
- Rabu, 31 Desember 2025 | 17:33 WIB
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Serukan Solidaritas dan Keteladanan Elit Bangsa. (Dok Humas PP Muhammadiyah)
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Serukan Solidaritas dan Keteladanan Elit Bangsa. (Dok Humas PP Muhammadiyah)

Baca Juga: Rekayasa Arus Lalu Lintas CFN dan Pentas Musik Bondan Fade2Black Malam Tahun Baru 2026 di Alun-alun Klaten

“Kami menaruh hormat kepada saudara-saudara korban terdampak bencana yang masih terus berjuang mengatasi kesulitan dengan kesabaran dan semangat kebersamaan yang tinggi,” tutur Haedar.

Haedar juga mengatakan bahwa pasca bencana terbuka peluang mengkaji kondisi ekosistem Indonesia secara menyeluruh.

Kajian-kajian hendaknya dilakukan secara objektif dengan pendekatan multidisipliner dan multiperspektif yang didukung riset lapangan yang andal.

Agar hasil kajian mendekati kebenaran yang substansial dan menyeluruh.

Baca Juga: Rayakan Tahun Baru di Alun-alun Wonogiri? Simak Pengalihan Arus Lalu Lintas Jelang Malam Pergantian Tahun 2025–2026

“Bersama dengan itu mari menata Indonesia di bidang politik, sosial, ekonomi, tata ruang, lingkungan, dan semua aspek secara benar dan tersistem menuju Indonesia yang lebih baik dan berkemajuan,” tegas Haedar.

Haedar juga mengatakan bahwa Indonesia saat ini dan ke depan menuntut kohesivitas hidup bersama, baik dalam menghadapi bencana maupun berbangsa-bernegara.

Dasar Persatuan Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika mesti menjadi patokan hidup bersama dalam menghadapi situasi sesulit apa pun maupun dalam dinamika hidup berbangsa.

“Jadikan keduanya sebagai nilai yang hidup (living value) dan teraktualisasi dalam kehidupan bersama,” jelas Haedar.

Baca Juga: Polres Klaten Musnahkan Ribuan Liter Miras Jelang Pergantian Tahun 2025-2026, Forkopimda Tegaskan Komitmen Berantas Penyakit Masyarakat

Bangun kebersamaan yang tulus dan otentik. Jauhi centang perenang, saling hujat, saling tuding, saling membodohkan, dan menumpah amarah yang menjadikan kehidupan berbangsa laksana bara yang dapat berpotensi membawa bencana baru dalam kehidupan kebangsaan.

“Jaga kerukunan dan kehormatan antarkomponen bangsa yang menjadi penopang kuat keindonesiaan,” ucap imbuh Haedar.

Haedar juga menegaskan agar media sosial jangan menjadi wahana perseteruan yang mengoyak persatuan dan kebersamaan.

Harganya terlalu mahal bila bangsa ini pecah disebabkan para warganya tidak mampu menahan diri dalam bermedia sosial.

Halaman:

Editor: Wulan Kurnia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X