Kamis, 4 Juni 2026

Bali Ndeso Mbangun Ndeso, Kisah Akhmad Sobirin Jadi Agen Perubahan di Tanah Kelahiran Lewat Manisnya Gula Semut, Kini Mendunia 

Photo Author
Rohmana Kurniandari, Portaloka
- Minggu, 10 November 2024 | 23:28 WIB
Kisah Akhmad Sobirin yang memilih pulang kampung untuk membangun Desa Semedo lewat manisnya gula semut. (Instagram @semedo_manise)
Kisah Akhmad Sobirin yang memilih pulang kampung untuk membangun Desa Semedo lewat manisnya gula semut. (Instagram @semedo_manise)

"Petani dengan kondisi seperti itu kita ajak berubah saja masih susah," katanya.

Para petani, kata Sobirin, mengaku kerepotan jika harus membuat kelompok, berkegiatan, dan kemudian beralih ke gula semut. 

Apalagi proses membuat gula semut lebih rumit dan lama. 

"Itu pertama tantangannya, jadi kita mau mengubah pendapatan mereka tetapi justru tantangannya dari mereka sendiri," tambahnya. 

Baca Juga: UNIK! Kolam Renang di Banyumas Ini Berada di Dalam Mall, Bisa Rekreasi Sambil Belanja, HTM-nya Rp30 Ribu

Kendala lainnya datang dari pengepul dan tengkulak. 

Mereka merasa dirugikan dan terancam dengan keberadaan gula semut. 

"Karena pasaran pertama gula cetak atau gula kristal itu adalah pengepul-pengepul yang lama, yang tanda kutip sudah 'menguasai' mereka sudah bertahun-tahun yang lalu. Nah, ketika kami masuk itu kan secara otomatis mengubah pasar mereka, alur penjualan pasar mereka. Akhirnya memang pengepul yang sudah lama beli produknya petani merasa dirugikan, merasa terancam," terang Sobirin. 

Sudah sejak lama para petani di sana menerapkan sistem ijon di mana kebutuhan mereka akan dipenuhi terlebih dahulu oleh tengkulak. 

"Tapi pada giliran mereka jual gula ke tengkulak harganya tengkulak yang menentukan karena merasa sudah ngasih duluan di awal," ungkap Sobirin. 

Baca Juga: Resep Soto Sokaraja Kuliner Khas Banyumas Legendaris yang Cocok untuk Menu Sarapan, Begini Cara Membuatnya

"Ketika kami datang mereka ketakutan akan mengganggu sistem yang sudah jalan bertahun-tahun," akunya. 

Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Sobirin dalam mengenalkan dan memproduksi gula semut. 

Tak ingin warga terus tercekik dengan ancaman tengkulak, Sobirin lalu mengubah sistem ijon yang sudah biasa mereka lakukan. 

"Sistem itu kita coba ubah bahwa mereka jual ke kelompok kemudian kita ada transparasi dana," ujarnya. 

Halaman:

Editor: Rohmana Kurniandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X