Oleh Bang Sufi
PORTALOKA.ID - Di sudut Alun Alun Ciamis, Abah Geyot berdiri seperti bayangan yang lupa pulang ke tubuhnya sendiri. Ia tidak menjual apa-apa, tidak menawarkan apa-apa, bahkan mungkin tidak menunggu siapa-siapa. Ia hanya berdiri, memandang masjid yang dulu pernah menjadi jantung kehidupan, kini seperti dada yang masih tegak tetapi tak lagi berdenyut.
Dulu, bedug adalah suara yang hidup. Ia bukan sekadar bunyi, melainkan panggilan yang lahir dari tangan manusia. Ada tenaga, ada napas, ada niat.
Anak-anak berlarian sebelum magrib, berebut memukulnya. Orang tua tersenyum, pura-pura marah, lalu ikut tertawa. Bedug adalah canda, adalah kehangatan, adalah tanda bahwa iman masih punya suara yang manusiawi.
Baca Juga: Bagaimana Mekanisme Penyaluran MBG Selama Ramadhan? Ini Penjelasan BGN
Sekarang, bedug itu telah digantikan.
Bukan oleh tangan, melainkan oleh tombol. Bukan oleh manusia, melainkan oleh mesin.
Suara bedug elektronik itu terdengar sempurna, terlalu sempurna. Tidak ada salah pukul, tidak ada jeda ragu, tidak ada napas lelah.
Ia berbunyi tepat waktu, tetapi justru karena itu, ia terasa mati. Seperti rekaman kesedihan yang diputar berulang-ulang tanpa pernah benar-benar merasa sedih.
Di dekatnya, boneka berdiri.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 Hijriah Kabupaten Ciamis, Cek Link Downloadnya DI SINI!
Boneka itu tersenyum terus-menerus, senyum yang tidak pernah berubah, senyum yang tidak pernah lelah. Tapi justru di situlah letak dukanya. Senyum yang tidak pernah berubah adalah senyum yang tidak hidup.
Abah Geyot memandang semua itu tanpa komentar. Mungkin ia mengerti sesuatu yang tidak kita mengerti. Bahwa yang hilang bukan bedugnya. Yang hilang adalah tangan-tangan yang dulu memukulnya. Yang hilang bukan bunyinya. Yang hilang adalah kebersamaan yang dulu menyertainya.
Masjid itu masih berdiri megah di Ciamis. Lampunya terang, lantainya bersih, pengeras suaranya canggih. Tapi kehangatan tidak bisa dibeli dengan listrik.