Baca Juga: Menjemput Ramadhan dari Tanah Wali: Wisata Religi Ciamis Kian Dilirik
Sebagai seorang ulama dan mursyid tarekat Syattariyah, beliau berperan penting dalam penyebaran ajaran Islam serta pembinaan spiritual di lingkungan Galuh dan sekitarnya.
Dalam tradisi lokal, tubuh beliau dibawa dari Sindanggalih (Indihiang) menuju ke Gunung Galuh menggunakan cara yang penuh penghormatan — yaitu diangkat secara estafet oleh keluarga dan murid-muridnya hingga sampai ke lokasi makam.
Namun catatan tanggal lahir dan meninggal yang spesifik (tahun/hari) untuk Eyang Bagus Syatariyah tidak secara jelas tercatat dalam sumber sejarah resmi yang tersedia saat ini.
Banyak narasi yang beredar justru berfokus pada perannya sebagai tokoh spiritual dan guru kesultanan serta hubungan beliau dengan pemerintahan Galuh, bukan pada data biografis lengkap seperti tahun kelahiran dan kematian yang terdokumentasi.
Baca Juga: Tradisi Mapag Ramadhan di Kabupaten Ciamis, Nadran Eyang Mangun Tapa di Baregbeg (Part 3)
Sumber-sumber primer mengenai tarekat Syattariyah menunjukkan bahwa tarekat ini sendiri berkembang di daerah Cirebon sejak abad ke-17–18 melalui berbagai silsilah ulama, tetapi detail personal tokoh seperti Pangeran Arya Natareja Muhammad Syattariah masih minim catatan persis.
Sebagai guru spiritual, ajaran beliau yang membawa nilai tauhid dan aspek tasawuf tarekat Syattariyah disampaikan kepada para pengikutnya termasuk kepada tokoh-tokoh pemerintahan seperti Adipati Adikusumah. Hal ini menjadi bagian dari penyebaran Islam di wilayah Galuh pada masa itu.***