Oleh: Galih Rimba Ariyana, S.Pd., Gr.
PORTALOKA.ID - Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan belajar.
Di dunia pendidikan, AI menghadirkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memunculkan kekhawatiran bahwa teknologi ini akan menggantikan profesi guru.
Artikel ini mengkaji peran AI dalam pendidikan berdasarkan perspektif pedagogis, etika, dan kebijakan internasional.
Dengan mengacu pada berbagai rekomendasi UNESCO, OECD, serta kebijakan pendidikan nasional, artikel ini menegaskan bahwa AI bukan pengganti guru, melainkan instrumen untuk memperkuat profesionalisme pendidik.
Masa depan pendidikan tidak bergantung pada kecanggihan teknologi semata, tetapi pada kemampuan guru mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan, karakter, dan etika.
Pendahuluan
Dunia sedang memasuki era baru yang ditandai dengan pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini mampu menghasilkan teks, gambar, video, analisis data, bahkan membantu pengambilan keputusan dalam hitungan detik. Kehadiran AI telah mengubah wajah berbagai sektor, mulai dari industri, kesehatan, ekonomi, hingga pendidikan.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan yang sering menjadi bahan diskusi di kalangan pendidik: Apakah AI akan menggantikan guru?
Pertanyaan ini sebenarnya berangkat dari cara pandang yang terlalu sempit terhadap profesi guru. Jika guru dipahami hanya sebagai penyampai informasi, maka AI memang tampak mampu mengambil sebagian fungsi tersebut.
Namun, pendidikan tidak pernah sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia (humanizing education), membentuk karakter, menumbuhkan nilai-nilai moral, mengembangkan potensi, serta membangun peradaban.