CIAMIS, PORTALOKA.ID - Penyuluh itu ibarat lentera kecil di sebuah perkampungan yang riuh dan gelap.
Penyuluh menjadi penyambung lidah ayat-ayat langit yang diterjemahkan dalam bahasa lokal wisdom.
"Maka seorang penyuluh agama harus punya kemampuan waskita yang selevel para waliyullah. Untuk itulah kami pada hari ini Rabu, 12 Februari 2025 menggelar Ziarah Kubro di makam para penyebar Islam di Kecamatan Panjalu," ujar Srikandi Penyuluh Agama KUA Kecamatan Panjalu, Hj Tini Sopiyah Mukarromah.
Menurut Tini, Ziarah Kubro ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan napak tilas perjalanan para penyebar Islam di Kecamatan Panjalu yang tersembunyi.
Makam mereka jarang sekali dikunjungi karena berlokasi jauh dari rumah penduduk.
"Keadaan alam pada masa 600 tahun silam para penyebar Islam yang diutus oleh Sultan Syarif Hidayatullah Cirebon tidaklah mudah. Infrastruktur jalan yang belum memadai, sarana transportasi yang mengandalkan kuda dan tantangan jiwa raga," ujar Tini.
"Kami mewarisi jejak dakwah mereka. Namun penyuluh agama hari ini jauh lebih mudah karena didukung segala fasilitas yang memadai. Dengan napak tilas ini kami ingin menyerap energi keteladanan mereka," tambahnya.
Dikatakan Tini, ada tiga kekuatan yang harus dimiliki seorang penyuluh agama Islam.
Pertama kecerdasan intelektual, kedua kecerdasan ruhani dan ketiga kekuatan jasmani. Jiwa raga dan pemikiran harus masagi, tidak boleh ada yang cacat apalagi sakit.
"Penyuluh adalah pencerah, dia adalah obor dan damar yang memandu perjalanan umat mengenali diri dan Tuhan-Nya. Maka dia yang terbawa dalam pusaran aura kepenyuluhan harus kuat menyalakan cahaya spiritualnya hingga satu kampung," ujar Tini mewakili para penyuluh lainnya.
Kepala KUA Kecamatan Panjalu, Saiful Millah, mengatakan, KUA Kecamatan Panjalu adalah salah satu KUA revitalisasi yang tidak hanya mengurus pernikahan.