Erupsi besar pada 1883 menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah dan memicu tsunami.
Peristiwa serupa kembali terjadi pada 22 Desember 2018, yang saat itu disertai longsoran sebagian tubuh gunung yang memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.
Setelah kejadian tersebut, Gunung Anak Krakatau terus mengalami serangkaian erupsi berskala rendah sebagai bagian dari fase pertumbuhan kembali tubuh gunung hingga 16 Desember 2023.
Anak Krakatau Kini Berstatus Siaga
Setelah sempat mengalami jeda erupsi cukup lama, aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat pada 2 Juli 2026.
Lana menyebut, sejak saat itu, status aktivitas Gunung Anak Krakatau ditetapkan pada Level III atau Siaga.
"Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga)," terang Lana.
"Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 5 September 2026," tandasnya.***