Dengan produktivitas rata-rata 6 hingga 7 ton gabah per hektare, lahan tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 30 hingga 35 ton gabah.
"Dari gabah itu menghasilkan beras sekitar 60 persen, maka dari 35 ton itu kurang lebih akan menghasilkan 20 sampai 25 ton beras,” ujar M Nurul Yamin.
Diharapkan pengembangan Rojolele Reborn memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani.
Program tersebut tidak sekadar berorientasi pada budidaya padi, tapi juga untuk membangun ekosistem pertanian lebih kuat.
“Rojolele Reborn bukan sekadar program budidaya padi, tetapi juga upaya membangun ekosistem pertanian, memperkuat kelembagaan petani, dan menciptakan rantai nilai yang lebih menguntungkan petani," kata M Nurul Yamin.
Baca Juga: Dukung Alih Status Guru PPPK Paruh Waktu jadi Penuh Waktu, Menag: Berlaku juga Bagi Guru Madrasah
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Tafsir, turut mendukung dan mengapresiasi pengembangan varietas Rojolele-104 tersebut.
Pengembangan Rojolele memiliki relevansi kuat dengan potensi daerah karena Kabupaten Klaten dikenal sebagai salah satu wilayah lumbung padi.
Muhammadiyah berharap komoditas khas Klaten tersebut tidak hanya dikenal sebagai produk pertanian unggulan.
Namun, juga jadi bagian dari penguatan ekonomi dan kesejahteraan petani melalui kelembagaan serta rantai nilai pertanian yang baik. ***